Rasulullah saw. sangat senang mengasingkan diri di Gua Hira saat hampir mencapai usia empat puluh tahun. Selama bulan Ramadhan beliau berada di gua ini dan menghabiskan waktunya untuk beribadah, memikirkan keagungan dan kekuatan alam di sekitarnya. Pengasingan ini termasuk dari ketentuan Allah Swt. untuk mengatur dan mempersiapkan kehidupan Nabi dalam mengemban amanat yang besar, yaitu sebagai seorang rasul sekaligus pemimpin di muka bumi ini.
Ketika usia beliau genap empat puluh tahun, mulai tampak tanda-tanda nubuat salah satunya adalah mimpi yang hakiki. Selama enam bulan mimpi beliau hanya menyerupai fajar subuh yang menyingsing. Akhirnya pada bulan Ramadhan tahun ketiga masa pengasingan beliau di Gua Hira, Allah Swt memuliakan beliau dengan nubuat dan menurunkan Jibril kepada beliau sambil membawa QS Al-Alaq ayat 1-5. Para ahli sejarah berbeda pendapat terkait tanggal diturunkannya wahyu pertama, namun di antara tanggal yang diyakini adalah pada hari Senin, malam tanggal 21 bulan Ramadhan.
Berdasarkan penuturan Aisyah, saat itu Nabi sedang berada di Gua Hira dan tiba-tiba Jibril mendatangi beliau seraya berkata “Bacalah!” Beliau menjawab “Aku tidak bisa membaca”. Jibril kemudian menarik beliau dengan keras, lalu melepaskannya dan berkata lagi “Bacalah!”, Rasulullah tetap menjawab “Aku tidak bisa membaca”. Jibril kembali melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, barulah Rasulullah berkata “Apa yang akan aku baca?”. Malaikat Jibril kemudian membacakan surah Al-Alaq ayat 1-5 dan Rasulullah mengulang bacaan tersebut dengan hati yang bergetar, lalu pulang menemui Khadijah dan berkata, “Selimutilah aku, selimutilah aku!”. Maka Khadijah menyelimuti beliau hingga tubuhnya tidak lagi menggigil seperti orang demam, dan kemudian beliau menceritakan kepada Khadijah kejadian yang telah dialaminya dan berkata, “Sungguh aku mengkhawatirkan diriku”, Khadijah pun menenangkan beliau.
Selanjutnya Khadijah membawa Rasulullah pergi menemui Waraqah bin Naufal untuk mengabarkan apa saja yang beliau alami dan lihat. Waraqah menjelaskan bahwa yang mendatanginya ketika di Gua Hira adalah makhluk kepercayaan Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Musa as, yaitu Malaikat Jibril. Waraqah mengatakan juga bahwa Rasulullah akan dimusuhi oleh kaumnya sendiri. Akhirnya Waraqah wafat pada saat-saat turun wahyu.
Setelah menerima wahyu pertama, Rasulullah saw tidak lagi menerima wahyu sehingga hal tersebut membuat beliau sedih. Suatu ketika beliau sedang berjalan-jalan dan memandang ke langit, tiba-tiba beliau melihat Jibril dalam rupa aslinya berada di atas kursi di antara langit dan bumi. Rasulullah sangat takut melihat hal tersebut, lalu beliau pulang dengan tergesa-gesa dan menemui istrinya sambil berkata “Selimutilah aku, selimutilah aku!”. Tak lama kemudian turunlah wahyu dari Allah swt yang memerintahkan Nabi untuk berdakwah, yaitu QS Al-Muddatstsir ayat 1-5. Setelah itu wahyu datang secara berturut-turut.
Ada beberapa macam pembagian wahyu menurut Ibnul Qayyim. Yang pertama berupa mimpi yang hakiki dan ini merupakan permulaan turunnya wahyu kepada Rasulullah saw. Kedua, berupa sesuatu yang dibisikkan oleh malaikat terhadap jiwa dan hati beliau tanpa dapat dilihat. Ketiga, berupa malaikat yang berwujud seorang laki-laki, lantas mengajak beliau berbicara hingga beliau memahaminya dengan baik apa yang dikatakan kepadanya. Keempat, berupa bunyi gemerincing lonceng yang datang kepada beliau dengan diikuti malaikat menyampaikan wahyu secara samar. Kelima, berupa malaikat dalam bentuk aslinya yang dilihat langsung oleh beliau, lalu diwahyukan beberapa wahyu yang dikehendaki oleh Allah. Keenam, berupa wahyu yang diwahyukan Allah Swt kepada beliau yaitu saat beliau berada di atas langit pada malam Mi’raj. Ketujuh, berupa Kalamullah (ucapan Allah) kepada beliau tanpa perantaraan malaikat, sebagaimana Allah Swt berbicara kepada Musa bin Imran.
Daftar pustaka:
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Syaikh. 1997. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
NAP, Gorontalo.
Komentar
Posting Komentar