Langsung ke konten utama

Mengulas Buku QUIET POWER: The Secret Strengths of Introverts

 

Buku karya Susan Cain bersama dua kawannya yakni Gregory Mone dan Erica Moroz terdiri dari empat bab, yakni School, Socializing, Hobbies, dan Home. Namun tulisan kali ini saya hanya akan berfokus pada bab satu saja, yaitu School.

Introduction

Bagaimana perbedaan extrovert dan introvert?
Para extrovert mereka yang menyelesaikan suatu masalah dengan keluar (berbicara) terlebih dahulu dibanding berpikir. Sedangkan introvert cenderung menyelesaikan suatu masalah di dalam otak dulu baru kemudian mengeluarkan idenya dalam suatu kesimpulan. Mereka lebih peka dan sensitif dalam indera.

Gambar di atas menjadi gambaran antara extrovert dan introvert dalam berkomunikasi dan menyelesaikan suatu masalah. Lingkaran introvert penuh dengan coretan merah yang acak-acakkan, yang artinya seorang introvert otaknya ribut, sibuk melakukan observasi, menganalisa, mencerna suatu masalah dan kemudian keluar dengan satu kesimpulan yang berbobot. Sementara extrovert bisa dilihat coretan merahnya hanya sedikit yang artinya extrovert orangnya yang penting ceplas-ceplos dulu, berfikir itu belakangan. Kuat diluar (ceplas-ceplos), lemah didalam (pemikirannya) dan kemudian ekxtrovert mengeluarkan tiga pendapat yang lemah dan tidak berbobot.

Ketika extrovert memikirkan suatu hal, dia memikirkan sekelilingnya. Sedangkan introvert dalam bersosialisasi lebih melakukan observasi, sehingga mereka lebih peka dalam merasakan sensasi disekitarnya. Mengapa introvert cenderung diam dan memilih untuk tidak berbicara? Karena mereka merasa tertekan jika menjadi pusat perhatian, sebab hal itu sangat melelahkan dan menjadikan kepekaan meningkat. Ehehehe.
Perhatikan gambar di atas. Misalkan Ayu adalah extrovert (E) dan Dewi intovert (I). Mereka sedang berjalan menuju kelas dan berpapasan dengan tiga orang teman. Ayu (E) sebagai extrovert pasti akan langsung menyapa, ngobrol, bahkan bercanda, sehingga Ayu melupakan dan mengabaikan Dewi. Ayu memikirkan suatu hal dengan memikirkan sekelilingnya. Berbeda dengan Dewi (I) dalam bersosial, Dewi lebih melakukan observasi sehingga Dewi lebih peka dalam merasakan sensasi dan tekanan dari Ayu (E) dan tiga orang lainnya. Itulah kenapa introvert cenderung diam tidak banyak bicara, karena merasa tertekan jika jadi pusat perhatian, dan itu melelahkan. Sekali lagi, melelahkan fren.

Para extrovert cenderung tidak peka ketika ada orang yang tidak menyukainya. Berbeda dengan introvert mereka sangat sensitif dan peka atas perasaan itu. Itulah kenapa mereka diam. Intovert cenderung overthinking dan sensitif atau baperan.

Stigma yang sering kita dengar bahwa mereka introvert cenderung pendiam. Mengapa? Simak penjelasan ilmiah tentang karakter introvert di sekolah. Ada empat bagian, yaitu sebagai berikut:

Chapter 1: Quiet in Cafeteria

Cafeteria adalah area yang berisi banyak orang untuk melakukan beberapa hal. Tempat yang paling dihindari para introvert karena di sana berpotensi bertemu dan bersosialisasi dengan orang lain. Ketika berjalan, mereka memilih jalan lain yang lebih sepi. Dalam contoh di buku ada anak bernama David, dia dianggap aneh dan berbeda oleh orang-orang di lingkungannya karena pendiam dan cuek, sehingga ia dicap negatif oleh lingkungannya. Lalu seharusnya bagaimana kita (para introvert) ketika di Cafeteria?
Ada cerita dalam buku ini bahwa ada seorang anak intovert naik bus dan dia masuk dari pintu belakang. Selagi di sana banyak anak nakal, akhirnya dia selalu diganggu oleh mereka. Lalu esoknya dia lewat dari pintu depan dan memilih duduk di depan. Dari cerita ini dapat dipahami bahwa kita harus memahami bahwasannya lingkungan itu tidak bekerja mengikuti kita, tapi kitalah yang harus mengubah diri kita dan memilih lingkungan mana yang cocok bagi diri kita.

Mengapa para introvert lebih diam dan menghindari bertanya di kelas? Hal ini seringkali disalahpahami oleh para extrovert dengan menganggap para introvert tidak aktif dan lemah atau cupu. Padahal yang sebetulnya terjadi para introvert tidak nampak di permukaan, tapi cenderung bergerilya di media yang sesuai dengan dirinya.

Saran untuk para introvert:
  1. Understand your needs. Ketika disuatu tempat baru, fokus saja sama tujuannya. Kalau mau ke tempat A, maka fokuslah untuk berjalan menuju ke arah sana.
  2. Look for you own circle. Apakah circle kamu memahami bahwa kamu introvert atau tidak?
  3. Communicate. Komunikasikan jika kamu merasa tidak nyaman dengan sekitar.
  4. Find your passion. Jika kita tidak bisa memahami passion, maka kita akan hilang arah.
  5. Know your body languange. Ada yang takut tapi dia tidak teriak namun tangannya bergetar. Ada juga yang memejamkan mata, dll. Jika kita tidak paham bahasa tubuh sendiri, kita akan sulit memahamkan orang kalo kita sebenarnya sedang takut.

Chapter 2: Queit in Classroom

Partisipasi
Partisipasi dalam kelas menimbulkan stigma bahwa yang angkat tangan nilainnya tinggi. Perlu kita ketahui partisipasi di kelas seperti apa. Misalnya penilaian raport tergantung berdasarkan keaktifan kita dalam bertanya di kelas. Hal ini merugikan para introvert. Para guru akan cenderung fokus pada mereka yang banyak bertanya di kelas dan menganggap seakan-akan para introvert tidak paham dengan materi. Guru akan berfokus pada siswa yang banyak bertanya tapi tidak berbobot pertanyaannya.

Extrovert yang penting ceplas-ceplos dulu, angkat tangan dulu walaupun pertanyaannya tidak berbobot. Bertanya supaya dapat nilai tinggi (kuantitas caper). Sementara introvert berpikir dulu, menganalisa, mencerna, mencari serta menyiapkan pertanyaan dan akhirnya keluar dengan satu pertanyaan yang berbobot.

Kerja Kelompok
Di kelas, kerja kelompok dapat memberatkan introvert dalam beberapa kasus. Yang sering terjadi adalah mereka para introvert kesulitan menyampaikan pendapat dan masukan dalam sebuah grup, sehingga mereka mendapatkan beban/tugas yang terkadang tidak mereka sukai karena tidak sesuai dengan kemampuannya.

Chapter 3: Group Projects, The Introvert Way 

Di buku ini disebutkan sebuah penelitian dari Adam Grant (psikolog) melakukan eksperimen dengan membagi dua puluh orang ke dalam empat kelompok, yang setiap kelompoknya memiliki lima anggota. Ia menunjuk para ketua dengan random, katakanlah terdapat empat kelompok dengan dua ketua introvert dan dua ketua extrovert.
Masing-masing kelompok  di atas diberikan satu aktor dan anggota empat lainnya diberi tugas untuk menjadi yang paling banyak tanya dikelompoknya. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok dengan pemimpin intovert lebih efisien dalam pemilihan dan waktu. Kenapa? Karena intovert adalah pendengar yang baik dari extrovert. Mereka adalah listener dan observator. Mereka dapat mendengarkan pertanyaan dan usulan dari keempat anggota dengan baik. Lalu ketika ada usul yang berkesinambungan , maka mereka akan lebih cepat membuat kesimpulannya.

Berdasarkan penelitian, introvert lebih handal dalam hal editorial karena mereka mampu mengatur sesuatu secara detail dan sistematis dari keahliannya menjadi observator. Pembelajaran bahasa dan pemograman cenderung lebih dikuasai para introvert.

Saran untuk para introvert:
  1. Quiet, not silent. Quiet adalah ketenangan, sedangkan silent adalah diam tanpa ada apa-apa.
  2. The right role. Dalam suatu perkumpulan, pahami posisi dan kapasitas kalian. Jangan mengambil tanggung jawab yang bukan kemampuanmu.
  3. New partners. Kalian harus memperluas jaringan pertemanan.
  4. How to avoid being interupted. Ketika kita berbicara tunjukkan gestur bahwa kita sedang berbicara, agar mereka lawan bicara mau mendengarkan kita.

Chapter 4: Quiet Leaders

Eleanor Rooselvelt, mantan Ibu Negara Amerika Serikat adalah seorang introvert. Ini menjadi bukti bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi para introvert menjadi seorang pemimpin. Contoh lain lagi dari seorang David yang telah disebutkan sebelumnya. Ia diminta untuk mencalonkan diri menjadi ketua osis. Saingannya adalah temannya yang extrovert yang memiliki penguasaaan public speaking yang bagus tapi gagasannya berantakan. Sedangkan David dalam menjelaskan visi misinya cenderung lebih ke to the point. Hal ini kadang dinilai kaku karena tanpa basa-basi tapi dalam gagasan, David lebih baik dan matang.

Walaupun introvert sulit berbicara di depan, jangan lantas menjadikan itu sebagai justifikasi sehingga tidak mau belajar untuk berbicara. Introvert juga harus latihan untuk berbicara di depan agar gagasannya dapat disampaikan. Kesalahan para introvert biasanya adalah tidak mau belajar.

Saran untuk para introvert:
  1. Play to your streghts. Pahami kelebihanmu dan gunakan dengan sebaiknya.
  2. Follow your passion. Temukan jati diri kalian. Ketika kalian tidak bisa menemukan jati diri, kalian akan kesulitan melangkah.
  3. Connect to listen. Membangun relasi dengan fokus mendengarkan agar memahami orang lain secara lebih mendalam.
  4. Empower others. Memberi dukungan dan kepercayaan kepada orang lain agar mereka dapat berkembang.

Terima kasih sudah membaca 🍊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Roger vs Tiger

Menjadi Generalis atau Spesialis? Sebuah Perspektif Dari Kisah Roger Federer dan Tiger Woods Pada bagian pendahuluan buku Range karya David Epstein ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang dua atlet kelas dunia: Tiger Woods sebagai juara dunia golf dan Roger Federer sebagai juara dunia tenis. Kisah mereka saling bertolak belakang dan menggambarkan dengan jelas perbedaan antara menjadi seorang spesialis dan generalis. Roger Federer dan Tiger Woods Tiger Woods Kejeniusan Tiger Woods dalam bermain golf sudah disadari ayahnya sejak awal. Pada usia tujuh bulan, ayahnya memberikan tongkat golf untuk dijadikan sebagai mainan. Pada usia sepuluh bulan, ia merangkak turun dari kursi tinggi dan mengambil tongkat golf yang sudah dipendekkan mengikuti ukuran tubuhnya, dan mengayunkan tongkat seperti yang ia lihat pada ayahnya. Pada usia dua tahun ia sudah bisa memukul bola yang membuat aktor Amerika-Inggris, Bob Hope, merasa terkesan. Tiger kecil adalah orang terpilih untuk dunia golf, sehingg...

Prinsip Kebaikan dan Jasa

Prinsip Kebaikan dan Jasa Ada sebuah cerita tentang dua orang kawan sedang duduk bersama. Sebut saja Andi dan Eko. Andi meminta satu hal pada Eko, sesuatu yang bisa dia pegang selamanya. Kita sebut saja: prinsip. Eko ini  dikenal orang yang cerdas dan wawasannya luas sehingga banyak kawan-kawannya yang meminta pandangan darinya. Mendengar pertanyaan dari Andi, seperti biasa Eko pun memberikan level pilihan dan Andi memilih level tertinggi. Prinsip itu berbunyi "Ukurlah manusia dalam kadar jasa, bukan kesukaan" . "Ukuran" yang dimaksud itu misalnya begini. Suatu waktu Eko melihat sebuah postingan isinya kira-kira begini: "Emang ya, kadang orang yang baru bahkan yang tidak dikenal itu lebih baik ke kita daripada orang yang udah lama kenal". Pernyataan di atas bisa jadi benar dalam situasi tertentu, tapi tidak tepat bahkan batal bila diukur dengan prinsip tadi. Eko memberi contoh. Ia punya teman lama, sebut saja Ahmad yang sudah dikenalnya 10 tahun lebih. Mot...

Contoh Teks Eksposisi tentang Lingkungan Alam

N asib Hutan Kita Semakin Suram Jika pemerintah tidak cepat bertindak dalam sepuluh tahun mendatang, hutan Sumatra akan musnah. Hilangnya hutan Sumatra akan diikuti oleh musnahnya hutan Kalimantan. Pengelolaan hutan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, kecenderungannya justru semakin memburuk. Kebakaran hutan masih terus terjadi dan penebangan liar semakin meningkat. Diperburuk lagi dengan rencana pembukaan lahan hutan lindung bagi pertambangan. Keadaan tersebut jelas menambah suram nasib hutan. Keterpurukan sektor kehutanan bersumber dari sistem pengelolaan yang didominasi oleh pemeritah pusat dan mengesampingkan keberadaan masyarakat lokal. Adanya konflik-konflik seperti konflik antar masyarakat lokal, masyarakat lokal dengan perusahaan, atau antara masyarakat lokal dengan Pemerintah, semakin memperburuk kondisi kehutanan di Indonesia. Selain itu, lemahnya penegakan hukum menyebabkan semakin parahnya kerusakan hutan. Kerusakan ...