Langsung ke konten utama

Roger vs Tiger


Menjadi Generalis atau Spesialis? Sebuah Perspektif Dari Kisah Roger Federer dan Tiger Woods

Pada bagian pendahuluan buku Range karya David Epstein ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang dua atlet kelas dunia: Tiger Woods sebagai juara dunia golf dan Roger Federer sebagai juara dunia tenis. Kisah mereka saling bertolak belakang dan menggambarkan dengan jelas perbedaan antara menjadi seorang spesialis dan generalis.

Roger Federer dan Tiger Woods

Tiger Woods
Kejeniusan Tiger Woods dalam bermain golf sudah disadari ayahnya sejak awal. Pada usia tujuh bulan, ayahnya memberikan tongkat golf untuk dijadikan sebagai mainan. Pada usia sepuluh bulan, ia merangkak turun dari kursi tinggi dan mengambil tongkat golf yang sudah dipendekkan mengikuti ukuran tubuhnya, dan mengayunkan tongkat seperti yang ia lihat pada ayahnya. Pada usia dua tahun ia sudah bisa memukul bola yang membuat aktor Amerika-Inggris, Bob Hope, merasa terkesan. Tiger kecil adalah orang terpilih untuk dunia golf, sehingga menjadi kewajiban ayahnya untuk selalu membimbingnya. 

Pada usia empat tahun, ayahnya rutin mengantarkan ia ke lapangan golf pukul sembilan pagi dan menjemputnya delapan jam kemudian, kadang-kadang dengan sejumlah uang yang diperoleh dari orang bodoh yang meragukan kemampuan anaknya. Akhirnya sampai pada titik dimana pada usia delapan tahun, Tiger sudah bisa mengalahkan ayahnya sendiri dan menjadi orang paling terkenal dalam dunia golf. Tiger adalah Sang Terpilih.

Roger Federer
Ibu Roger adalah seorang pelatih tenis, tetapi ibunya memutuskan untuk tidak melatih anaknya. Sejak kecil Roger sudah bermain dan mencoba berbagai jenis olahraga bersama ayahnya. Mulai dari menendang bola, bermain skuas, mencoba ski, gulat, renang, papan luncur. Ia juga bermain basket, bola tangan, tenis, tenis meja, bulu tangkis, dan sepak bola di sekolah. Baginya, jenis olahraga tidak begitu penting, selama olahraga itu melibatkan bola, ia suka.

Alasan ibunya tidak mau melatih putranya karena putranya selalu membuat dirinya kesal. Roger selalu melakukan pukulan yang aneh dan tidak pernah mengembalikan bola dengan normal. Sampai pada usia remaja, ia mulai menunjukkan ketertarikannya pada olahraga tenis, sampai mengantarkan dirinya menjadi pemain yang cukup baik dan mendapatkan wawancara dari koran setempat. Ia pun memutuskan berhenti melakukan olahraga lain, kecuali tenis. Di saat anak-anak lain sudah cukup lama menggeluti tenis, sudah lama mengolah kekuatan bersama pelatih, psikolog olahraga, dan ahli gizi, Roger baru memulai. Namun, situasi seperti itu tidak menghambat perkembangannya. Sampai pada usia pertengahan tiga puluhan tahun, usia pemain tenis legendaris biasanya pensiun, ia masih menjadi pemain nomor satu di dunia.

-

Tiger Woods dan Roger Federer kemudian bertemu untuk pertama kalinya saat menonton pertandingan final US Open pada 2006, saat keduanya berada di puncak karier masing-masing. Kesamaan sebagai juara dunia membuat mereka saling terhubung dan langsung berteman. 

Mereka dibesarkan dalam dua kondisi yang berbeda. Tiger dibesarkan secara khusus dalam olahraga golf, ia terlibat dalam "latihan yang disengaja" sejak dini, sementara Roger tidak demikian. Latihan yang disengaja termasuk dalam Aturan 10.000 jam yang dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya "Outliers", yang menyatakan bahwa untuk menjadi ahli dan expert dibidang tertentu, seseorang perlu menghabiskan waktu 10.000 jam latihan yang disengaja (fokus, terarah, dan terstruktur). 

Kita tahu sebuah fakta bahwa semakin bersaing dan kompleksnya dunia, semakin kita harus menjadi khusus dalam suatu bidang dan memulainya sedini mungkin untuk bisa menyeimbangi dan menjalani dunia itu. Jurnalis asal Inggris, Matthew Syed mengatakan bahwa Pemerintah Inggris gagal dan konyol, karena memindahkan pejabat tinggi pemerintah dari satu kementerian ke kementerian lainnya, padahal itu bukan keahlian dan bidang mereka. Hal ini seperti memindahkan Tiger Woods dari golf ke bisbol, ke rugbi, ke hoki. Di sisi lain, Summer Olympics sukses besar di Inggris karena adanya program khusus, yakni merekrut orang dewasa untuk mencoba jenis olahraga baru dan menciptakan jalan bagi orang dengan perkembangan yang lambat, seperti halnya Roger Federer yang mencoba berbagai jenis olahraga. Jadi kita tahu bahwa gagasan Roger bukanlahh hal yang konyol seperti yang dikatakan Matthew Syed sebelumnya.

Anggaplah Tiger adalah atlet elite yang menempuh jalur spesialisasi sejak dini dan Roger adalah atlet mendekati elite. Atlet elite memang menghabiskan lebih banyak waktu dalam latihan yang disengaja yang sangat teknis dibandingkan atlet yang mendekati elite. Akan tetapi, ketika ilmuwan memeriksa seluruh jalan perkembangan sejak kanak-kanak, hasil gambarannya adalah sebagai berikut:


Berdasarkan grafik, dapat dilihat bahwa ternyata pada masa kanak-kanak atlet elite menghabiskan lebih sedikit waktu untuk latihan yang disengaja pada bidang olahraga yang kemudian menjadi kemahirannya. Mereka mengalami yang namanya "periode mencicipi". Mereka tidak hanya bermain golf saja, tetapi juga mencoba berbagai jenis olahraga lain, baik yang terstruktur atau tidak terstruktur (bermain bebas) yang membuat ketahanan dan kemahiran fisik mereka lebih matang. Sehingga kemudian hari mereka bisa berfokus dan meningkatkan latihan teknis di satu bidang yang akhirnya jadi kemahirannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asumsi awal mengenai spesialisasi sejak dini untuk menjadi atlet elite tidak sepenuhnya sesuai.

Sebenarnya tidak ada yang salah antara menjadi generalis maupun spesialis. Pengkhususan bidang (spesialis) dan perluasan bidang (generalis) sama-sama telah menjadi tuntutan masa kini. Masing-masing pilihan bergantung pada preferensi tiap individu. Kaum spesialis lebih cocok dalam peran kepakaran dan berfokus pada detail. Sedangkan kaum generalis lebih cocok pada peran manajerial yang menjembatani berbagai sudut pandang dan disiplin ilmu.

Namun, sering kali kaum generalis dipandang rendah dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan generalis dianggap seperti tidak memiliki jati diri atau arah bidang yang dikuasai dengan jelas. Kita tahu bahwa kaum generalis memiliki antusiasme yang tinggi dan cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan, tetapi digentarkan arus bawah ketakutan. Mereka takut profil Linkedln mereka tidak menunjukkan arah bidang tertentu yang diinginkan pemberi kerja. Mereka dihantui rasa cemas karena mereka sibuk mengumpulkan kehidupan yang unik dan pengalaman kepemimpinan yang sebenarnya menjadi pembeda dengan yang lain. Akan tetapi keunikan tersebut justru menjadi beban pikir mereka karena takut terlambat untuk fokus ke satu bidang.

Padahal fren, generalis dan spesialis itu dapat melengkapi satu sama lain sesuai perannya masin-masing. Tantangan kita saat ini adalah bagaimana memelihara manfaat dari pengalaman serta pemikiran luas dan beragam yang kita asah sejak dulu, yang membuat konsentrasi kita tertunda di tengah dunia yang semakin mendorong bahkan menuntut hiperspesialisasi. Secara jelas memang ada area yang membutuhkan individu dengan bakat serta kejelasan bidang seperti tokoh Tiger, akan tetapi ketika sistem semakin kompleks dan meningkat, saat di mana teknologi memutar dunia dengan cepat ke sistem jaringan yang saling terhubung, namun setiap orang hanya melihat dari satu sisi bagian kecil saja, di momen seperti ini kita membutuhkan lebih banyak Roger: orang yang memulai dan merangkul beragam pengalaman serta sudut pandang sambil berjalan maju bersama-sama. Orang yang memiliki keragaman.

Jadi tidak apa-apa jika kamu menjadi generalis atau spesialis :)

Terima kasih sudah membaca 🍊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip Kebaikan dan Jasa

Prinsip Kebaikan dan Jasa Ada sebuah cerita tentang dua orang kawan sedang duduk bersama. Sebut saja Andi dan Eko. Andi meminta satu hal pada Eko, sesuatu yang bisa dia pegang selamanya. Kita sebut saja: prinsip. Eko ini  dikenal orang yang cerdas dan wawasannya luas sehingga banyak kawan-kawannya yang meminta pandangan darinya. Mendengar pertanyaan dari Andi, seperti biasa Eko pun memberikan level pilihan dan Andi memilih level tertinggi. Prinsip itu berbunyi "Ukurlah manusia dalam kadar jasa, bukan kesukaan" . "Ukuran" yang dimaksud itu misalnya begini. Suatu waktu Eko melihat sebuah postingan isinya kira-kira begini: "Emang ya, kadang orang yang baru bahkan yang tidak dikenal itu lebih baik ke kita daripada orang yang udah lama kenal". Pernyataan di atas bisa jadi benar dalam situasi tertentu, tapi tidak tepat bahkan batal bila diukur dengan prinsip tadi. Eko memberi contoh. Ia punya teman lama, sebut saja Ahmad yang sudah dikenalnya 10 tahun lebih. Mot...

Contoh Teks Eksposisi tentang Lingkungan Alam

N asib Hutan Kita Semakin Suram Jika pemerintah tidak cepat bertindak dalam sepuluh tahun mendatang, hutan Sumatra akan musnah. Hilangnya hutan Sumatra akan diikuti oleh musnahnya hutan Kalimantan. Pengelolaan hutan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, kecenderungannya justru semakin memburuk. Kebakaran hutan masih terus terjadi dan penebangan liar semakin meningkat. Diperburuk lagi dengan rencana pembukaan lahan hutan lindung bagi pertambangan. Keadaan tersebut jelas menambah suram nasib hutan. Keterpurukan sektor kehutanan bersumber dari sistem pengelolaan yang didominasi oleh pemeritah pusat dan mengesampingkan keberadaan masyarakat lokal. Adanya konflik-konflik seperti konflik antar masyarakat lokal, masyarakat lokal dengan perusahaan, atau antara masyarakat lokal dengan Pemerintah, semakin memperburuk kondisi kehutanan di Indonesia. Selain itu, lemahnya penegakan hukum menyebabkan semakin parahnya kerusakan hutan. Kerusakan ...