Ketakutan itu wajar. Semua orang punya. Tapi kalau terus dituruti dan dihindari, rasa takut justru makin besar. Manusia memang cenderung menjauh dari hal-hal yang tidak nyaman atau menegangkan. Padahal, salah satu cara paling efektif untuk melatih EQ adalah dengan berani menghadapinya. Bukan berarti harus melakukan hal nekat atau mencari bahaya. Yang dimaksud adalah berani menghadapi konsekuensi. Misalnya tanpa sengaja merusak barang di rumah, apalagi itu milik ibu yang tegas. Sangat mudah untuk pura-pura tidak tahu atau menyalahkan hal lain. Namun memilih lari hanya akan membuat mental tetap lemah. Bayangan dimarahi memang menakutkan, tetapi justru di situlah latihannya: berani bertanggung jawab. Sering kali ketakutan hanya hidup di kepala. Bisa saja nanti dimarahi, bisa juga ternyata dimaafkan. Apa pun hasilnya, yang penting berani menerima konsekuensinya. Di awal pasti ada rasa gemetar dan cemas. Itu normal. Namun jika terus dibiasakan, emosi akan semakin stabil dan daya tahan menta...
Buku karya Susan Cain bersama dua kawannya yakni Gregory Mone dan Erica Moroz terdiri dari empat bab, yakni School, Socializing, Hobbies, dan Home. Namun tulisan kali ini saya hanya akan berfokus pada bab satu saja, yaitu School. Introduction Bagaimana perbedaan extrovert dan introvert? Para extrovert mereka yang menyelesaikan suatu masalah dengan keluar (berbicara) terlebih dahulu dibanding berpikir. Sedangkan introvert cenderung menyelesaikan suatu masalah di dalam otak dulu baru kemudian mengeluarkan idenya dalam suatu kesimpulan. Mereka lebih peka dan sensitif dalam indera. Gambar di atas menjadi gambaran antara extrovert dan introvert dalam berkomunikasi dan menyelesaikan suatu masalah. Lingkaran introvert penuh dengan coretan merah yang acak-acakkan, yang artinya seorang introvert otaknya ribut, sibuk melakukan observasi, menganalisa, mencerna suatu masalah dan kemudian keluar dengan satu kesimpulan yang berbobot. Sementara extrovert bisa dilihat coretan merahnya hanya sedi...