Langsung ke konten utama

Postingan

Penonton boleh ketawa, tapi kamulah pemainnya

Kaidah ini saya dapat dari Guru, saya menyebutnya Kapten. Kaidah ini dipakai agar jadi pegangan kalau lagi melakukan kesalahan dalam pidato, presentasi, atau saat sedang tampil. Tidak apa-apa, wajar. Tidak perlu malu apalagi menangis. Diketawain ya biasa saja, toh mereka belum tentu lebih jago. Saya ingat betul momen pertama kali kelas tiga sd saya tampil untuk baca puisi dan teman-teman bahkan dewan juri ikut menertawakan. Sakit hati? Malu? Sudah kebal. Untungnya saya tidak kapok, justru saya lebih menggila lagi dan menunjukkan apa yang saya lakukan tidak pantas kalian tertawakan selagi kalian tidak ahli di bidang itu. Dari SD, SMP, hingga SMA lomba baca puisi selalu saya ikuti dan alhamdulillah juara meskipun waktu untuk sampai kesana sangat lama, tujuh tahun. Memilih untuk tidak berhenti dan tidak kapok. Dari hal itu, ada satu ucapan yang saya pegang: Yang lebih ahli ngga bakal ikut ketawa. Apa kamu mengerti? Yang bertanding yang babak belur. Risiko kalau kalah yang diejek, bahkan o...
Postingan terbaru

Aku Tidak Tampil untuk Persepsi

Terkadang hal-hal yang paling tak terduga justru mengajarkanmu banyak hal tentang dirimu sendiri. Statis. Begitulah cara seseorang yang baru mengenal saya selama enam bulan menggambarkan saya, tetapi berbicara seolah-olah mereka tahu segalanya. Awalnya, saya mempertanyakan kata itu sendiri. Bukan karena menyakitkan, bahkan bukan dalam arti defensif, tetapi karena rasanya janggal. Seperti label yang hampir cocok, tetapi entah bagaimana ditempatkan di rak yang salah. Dan cara mereka memandang saya sebagai seseorang yang terjebak, mungkin bahkan terperangkap, tidak benar-benar ke mana-mana, bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah. Karena kenyataannya, tidak semua hal yang penting itu terlihat. Aku tahu kapan saatnya untuk bergerak. Aku tahu kapan mengerahkan seluruh kemampuan adalah hal yang tepat. Dan aku tahu kapan mundur adalah hal paling penuh kasih yang bisa kulakukan, pertama untuk diriku sendiri, dan kemudian untuk segalanya. Saya tidak bersaing dengan siapa pun. Tidak bersaing untu...

Bagaimana menjadi orang kuat?

Jika ingin menjadi orang kuat, setidaknya lakukan tiga hal berikut. 1. Jangan Mengeluh Apapun yang terjadi, seberat-beratnya kondisi, jangan mengeluh, paling minimal tahan tanganmu agar tidak menyampaikan kesedihan ke publik (medsos). Perbedaan antara yang kuat dan yang payah adalah disini. Kalo bisa menahan diri untuk tidak mengeluh, kamu bisa jadi kuat. Hidup itu pilihan. Silakan pilih mana yang kamu ingin jalani. 2. Minimalkan mengandalkan orang lain, minta bantuan orang lain, jadilag mandiri (kerjakan sendiri). Kalo dalam bahasa jawa, urusen urusanmu dewe cah!. Mereka yang mengandalkan dirinya sendiri, secara emosional maupun reputasi benar-benar kuat. Ini lebih berat dari yang pertama tadi. Sebab pada dasarnya, ini menyalahi kodrat manusia sebagai mahluk sosial. Kata "sendirian" selalu dikaitkan dengan hal yang tidak baik. Harus bisa menahan apapun sendirian itu berarti membuat psikis diri sendiri menjadi babak belur. Biasanya orang yang melakukan apa-apa sendirian itu m...

Orang Besar (Pemimpin)

Apa yang membuat para pemimpin itu berbeda dengan orang biasa, apa yang membuat mereka menarik?. Orang-orang biasa tentu akan kagum, terpesona dan menghargai orang-orang besar. Ibarat dunia ini layar pertunjukkan mereka adalah pemerannya. Dunia tempat pentas para pemimpin dalam memainkan peran drama kepemimpinannya. Sementara orang biasa? Sebagai hiasan latar pertujukkan panggung supaya ramai. Mengapa seorang menjadi besar?  Determinisme Genentis, yakni suatu paham yang menanggap bahwa seorang menjadi besar karena memiliki bakat menjadi orang besar dan bawaan genetik. Kita semua paham bahwa setiap orang itu unik dan berbeda dengan bakat yang dimilikinya. Bakat ini akan semakin berkembang jika berada di lingkungan yang serupa, karena setiap waktu berkutat dengan orang yang sebidang yang akan menambah skill dan pengetahuan terkait hal yang menjadi bakat kita. Kemudian dari bakat yang besar di lingkungan itu tinggal menunggu momentum historis untuk menjadi orang besar. Kesempatan berb...