Kaidah dasarnya adalah: waktu itu berjalan ke depan. Ke depan, A ke B, ke C. Jam 1 ke jam 2. Januari ke Desember. Itu waktu. Pun jika ternyata habis jam 12 balik ke jam 1, maka udah ganti hari. Jika Desember kembali ke Januari, maka itu 2025 ganti 2026. Kemarin hari Jum'at, tapi Jum'at yang akan datang adalah Jum'at yang baru, bukan kembali ke Jum'at yang kemarin. Sekarang, kita mengerti bahwa panah waktu itu ke depan. Tidak pernah kembali ke belakang. Di sini, seharusnya, kamu mengerti bahwa: - Meratapi kesalahan atau penyesalan masa lalu itu percuma, sebab panahnya ngga pernah bisa balik - Buru-buru menuju ke masa depan juga ngga bagus, sebab tanpa dipercepat, kita udah pasti ke sana Kita pasti sering mendengar pesan dari teman, "Ngga perlu buru-buru pengen cepet lulus. Nikmati yang ada sekarang, waktunya belajar ya belajar, tapi kalo temen pas weekend ngajak main, ngopi, ya gaskan". Seperti masa SMA dulu, itu selamanya ngga bakal pernah bisa diulang. Makan...
Di luar sana, banyak orang banyak yang beruntung disemua hal: interaksi sosialnya bagus, sehingga dia memiliki banyak teman. Namanya terkenal dan populer, sehingga banyak yang mencintainya. Juga hal-hal sejenis seperti strata sosial, harta, good looking, dan lainnya, membuatnya dianugerahi jalan hidup yang nyaris sempurna. Orang yang seperti ini beruntung. Ketika kesusahan, pasti banyak yang membantu. Dia menerima banyak ucapan selamat ketika kelulusan dan kado-kado ketika ulang tahun. Di sini, kita justru diajak untuk melihat mereka yang tidak dianugerahi hal yang demikian tadi. Kaidah ini melihat sosok yang tidak populer, cenderung dijauhi, kurang beruntung pada kemampuan bersosialisasi, atau gampangnya: orang yang tidak dicintai. Dunia ini berlaku hukum yang unik: belum tentu kamu orang baik yang berbuat baik akan dianggap baik dan menerima hal baik. Sebaik-baik manusia, ia tidak lepas dari fitnah, cobaan, atau yang semacam ini. Artinya, banyak orang baik, pejuang,...