Hidup Seabad, Retas Sekedip Akar yang perkasa, Takluk pada tamak yang meraksasa. Raga tegap nan gagah, Rebah demi sekotak yang pasrah. Dari pasak teguh menantang badai, Kini meliuk bisu menjadi gulungan helai. Mereka lupa, setiap lembar berarti jiwa yang terburai. Setiap carik membawa jerit yang tak sampai. Serat diperas, identitas dikuras habis. Cokelat tubuh dibilas, dipaksa putih mengilap. Dibasuh kimia hingga warnanya lenyap. Menjelma selembar tipis, pengusap tangis. Bertahun hidup, raib oleh sedetik kemudahan. Dalih higienis dilontar, abai akan kehancuran. Secarik ditarik untuk mengesat peluh, Sementara dunia kehilangan teduh. Sebuah tangis kering oleh selembar putih, Sedang tak sadar ada duka lain yang lebih perih. Yang tumbuh perlahan, luruh tanpa disesalkan. Sekalipun petaka turut disemai dalam kenyamanan.
Kaidah ini saya dapat dari Guru, saya menyebutnya Kapten. Kaidah ini dipakai agar jadi pegangan kalau lagi melakukan kesalahan dalam pidato, presentasi, atau saat sedang tampil. Tidak apa-apa, wajar. Tidak perlu malu apalagi menangis. Diketawain ya biasa saja, toh mereka belum tentu lebih jago. Saya ingat betul momen pertama kali kelas tiga sd saya tampil untuk baca puisi dan teman-teman bahkan dewan juri ikut menertawakan. Sakit hati? Malu? Sudah kebal. Untungnya saya tidak kapok, justru saya lebih menggila lagi dan menunjukkan apa yang saya lakukan tidak pantas kalian tertawakan selagi kalian tidak ahli di bidang itu. Dari SD, SMP, hingga SMA lomba baca puisi selalu saya ikuti dan alhamdulillah juara meskipun waktu untuk sampai kesana sangat lama, tujuh tahun. Memilih untuk tidak berhenti dan tidak kapok. Dari hal itu, ada satu ucapan yang saya pegang: Yang lebih ahli ngga bakal ikut ketawa. Apa kamu mengerti? Yang bertanding yang babak belur. Risiko kalau kalah yang diejek, bahkan o...