Hidup Seabad, Retas Sekedip Akar yang perkasa, Takluk pada tamak yang meraksasa. Raga tegap nan gagah, Rebah demi sekotak yang pasrah. Dari pasak teguh menantang badai, Kini meliuk bisu menjadi gulungan helai. Mereka lupa, setiap lembar berarti jiwa yang terburai. Setiap carik membawa jerit yang tak sampai. Serat diperas, identitas dikuras habis. Cokelat tubuh dibilas, dipaksa putih mengilap. Dibasuh kimia hingga warnanya lenyap. Menjelma selembar tipis, pengusap tangis. Bertahun hidup, raib oleh sedetik kemudahan. Dalih higienis dilontar, abai akan kehancuran. Secarik ditarik untuk mengesat peluh, Sementara dunia kehilangan teduh. Sebuah tangis kering oleh selembar putih, Sedang tak sadar ada duka lain yang lebih perih. Yang tumbuh perlahan, luruh tanpa disesalkan. Sekalipun petaka turut disemai dalam kenyamanan.
Terkadang hal-hal yang paling tak terduga justru mengajarkanmu banyak hal tentang dirimu sendiri. Statis. Begitulah cara seseorang yang baru mengenal saya selama enam bulan menggambarkan saya, tetapi berbicara seolah-olah mereka tahu segalanya. Awalnya, saya mempertanyakan kata itu sendiri. Bukan karena menyakitkan, bahkan bukan dalam arti defensif, tetapi karena rasanya janggal. Seperti label yang hampir cocok, tetapi entah bagaimana ditempatkan di rak yang salah. Dan cara mereka memandang saya sebagai seseorang yang terjebak, mungkin bahkan terperangkap, tidak benar-benar ke mana-mana, bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah. Karena kenyataannya, tidak semua hal yang penting itu terlihat. Aku tahu kapan saatnya untuk bergerak. Aku tahu kapan mengerahkan seluruh kemampuan adalah hal yang tepat. Dan aku tahu kapan mundur adalah hal paling penuh kasih yang bisa kulakukan, pertama untuk diriku sendiri, dan kemudian untuk segalanya. Saya tidak bersaing dengan siapa pun. Tidak bersaing untu...