Kaidah ini saya dapat dari Guru, saya menyebutnya Kapten. Kaidah ini dipakai agar jadi pegangan kalau lagi melakukan kesalahan dalam pidato, presentasi, atau saat sedang tampil. Tidak apa-apa, wajar. Tidak perlu malu apalagi menangis. Diketawain ya biasa saja, toh mereka belum tentu lebih jago. Saya ingat betul momen pertama kali kelas tiga sd saya tampil untuk baca puisi dan teman-teman bahkan dewan juri ikut menertawakan. Sakit hati? Malu? Sudah kebal. Untungnya saya tidak kapok, justru saya lebih menggila lagi dan menunjukkan apa yang saya lakukan tidak pantas kalian tertawakan selagi kalian tidak ahli di bidang itu. Dari SD, SMP, hingga SMA lomba baca puisi selalu saya ikuti dan alhamdulillah juara meskipun waktu untuk sampai kesana sangat lama, tujuh tahun. Memilih untuk tidak berhenti dan tidak kapok. Dari hal itu, ada satu ucapan yang saya pegang: Yang lebih ahli ngga bakal ikut ketawa. Apa kamu mengerti? Yang bertanding yang babak belur. Risiko kalau kalah yang diejek, bahkan o...
Terkadang hal-hal yang paling tak terduga justru mengajarkanmu banyak hal tentang dirimu sendiri. Statis. Begitulah cara seseorang yang baru mengenal saya selama enam bulan menggambarkan saya, tetapi berbicara seolah-olah mereka tahu segalanya. Awalnya, saya mempertanyakan kata itu sendiri. Bukan karena menyakitkan, bahkan bukan dalam arti defensif, tetapi karena rasanya janggal. Seperti label yang hampir cocok, tetapi entah bagaimana ditempatkan di rak yang salah. Dan cara mereka memandang saya sebagai seseorang yang terjebak, mungkin bahkan terperangkap, tidak benar-benar ke mana-mana, bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah. Karena kenyataannya, tidak semua hal yang penting itu terlihat. Aku tahu kapan saatnya untuk bergerak. Aku tahu kapan mengerahkan seluruh kemampuan adalah hal yang tepat. Dan aku tahu kapan mundur adalah hal paling penuh kasih yang bisa kulakukan, pertama untuk diriku sendiri, dan kemudian untuk segalanya. Saya tidak bersaing dengan siapa pun. Tidak bersaing untu...