Langsung ke konten utama

Pengalaman Pertama Kali Menjadi Volunteer (Part 1)

 

Akhir tahun 2024 kemarin, ada satu keinginan sederhana yang terbesit dalam benak saya. Ikut kegiatan volunteer. Keinginan ini muncul karena salah satu teman saya yang sering memberikan informasi pengetahuan melalui status Whatssapp, dan salah satunya tentang volunteer. Di statusnya dia menulis:
"Setidaknya sekali seumur hidup, cobalah ikut kegiatan volunteer."

Dari kalimat itulah, saya tergerak untuk ikut, penasaran. Saya mulai dengan mengikuti akun Instagram komunitas volunteer yang ada di daerah saya, Gorontalo. Cukup lama mencarinya, terkadang mendapatkan yang komunitasnya sudah tidak aktif lagi. Sampai kemudian saya melihat cerita Instagram teman luar daerah saya, yang membagikan informasi terkait sosial project yang diadakan oleh komunitasnya, yaitu Gerakan Mengajar Desa (GMD). Setelah baca-baca informasinya, ternyata mereka bekerja sama dengan 15 provinsi di Indonesia, dan salah satunya Provinsi Gorontalo. Wah, senang sekali setelah mengetahui informasi tersebut. Setelah itu, saya segera mengikuti akun Instagram @gmd.gorontalo, agar tidak ketinggalan informasi. Untuk Provinsi Gorontalo mengangkat sosial project dengan tema Bakti Mombulo: Merawat Dengan Kasih, Mengabdi Dengan Hati. Kegiatannya dilaksanakan tanggal 12-13 Juli 2025, berlokasi di Panti Jompo LKS LU Beringin, Desa Hutuo, Kec. Limboto, Kab. Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Setiap hari saya selalu memantau Instagram untuk melihat kapan pendaftarannya dibuka. Akhirnya, tepat tanggal 1 Juli 2025 mereka open volunteer dengan kuota hanya 20 orang. Segera hari itu juga saya mendaftar. Persyaratannya cukup mudah, hanya mengunggah twibbon di Instagram, melakukan pembayaran sebesar Rp30.000 sebagai fee komitmen, dan mengisi Google Form. Setelah menunggu hasil penguguman selama seminggu, kabar baiknya saya lolos, alhamdulillah. Ohiya, salah satu teman saya juga ikut karena melihat unggahan saya di Instagram, dan lolos juga. Pengalaman pertama kali juga bagi dia.

Kami semua volunteer yang lolos bergabung dalam dua grup Whatsaap. Satu grup yang berisi seluruh volunteer dari 15 provinsi dan satu lagi volunteer dari masing-masing tiap provinsi. Di grup volunteer provinsi, tentu saja kami membahas banyak hal, salah satunya dimulai dengan perkenalan masing-masing anggota, dimulai dari panitianya kemudian volunteer. Kemudian kami melunasi biaya pendaftaran sebesar Rp105.000, karena di awal sudah memberikan Rp30.000, maka kami tinggal membayar sisanya. Biaya tersebut sudah termasuk dalam biaya konsumsi, transportasi, akomodasi, dan sertifikat. Untuk kaos kegiatan dan printilan lainnya beda lagi.

Kemudian tanggal 16 Juli 2025, kami melakukan pertemuan pertama kali melalui via online. Tentu saja ada sesi perkenalan, kami pelan-pelan mulai mengenal nama dan wajah teman sesama volunteer yang lain. Kemudian dilanjutkan dengan panitia yang membahas hal-hal teknis, apa yang harus disiapkan dan masih banyak lagi. Akhir pertemuan kami melakukan foto bersama, dilanjutkan dengan membuat vidio tagline Gerakan Mengajar Desa. Dipimpin oleh satu orang yang menyerukan, "Gerakan Mengajar Desa?", kami volunteer dan panitia dengan kompak menjawab, "Pintar Desanya, Maju Negaranya". Hehehe, menurut saya pertemuan pertama kali sudah seseru itu, apalagi berjumpa nanti.

- Tulisan ini akan berlanjut (Part 2), kalau sempat. Ehehehe.

Terima kasih sudah membaca 🍊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Roger vs Tiger

Menjadi Generalis atau Spesialis? Sebuah Perspektif Dari Kisah Roger Federer dan Tiger Woods Pada bagian pendahuluan buku Range karya David Epstein ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang dua atlet kelas dunia: Tiger Woods sebagai juara dunia golf dan Roger Federer sebagai juara dunia tenis. Kisah mereka saling bertolak belakang dan menggambarkan dengan jelas perbedaan antara menjadi seorang spesialis dan generalis. Roger Federer dan Tiger Woods Tiger Woods Kejeniusan Tiger Woods dalam bermain golf sudah disadari ayahnya sejak awal. Pada usia tujuh bulan, ayahnya memberikan tongkat golf untuk dijadikan sebagai mainan. Pada usia sepuluh bulan, ia merangkak turun dari kursi tinggi dan mengambil tongkat golf yang sudah dipendekkan mengikuti ukuran tubuhnya, dan mengayunkan tongkat seperti yang ia lihat pada ayahnya. Pada usia dua tahun ia sudah bisa memukul bola yang membuat aktor Amerika-Inggris, Bob Hope, merasa terkesan. Tiger kecil adalah orang terpilih untuk dunia golf, sehingg...

Prinsip Kebaikan dan Jasa

Prinsip Kebaikan dan Jasa Ada sebuah cerita tentang dua orang kawan sedang duduk bersama. Sebut saja Andi dan Eko. Andi meminta satu hal pada Eko, sesuatu yang bisa dia pegang selamanya. Kita sebut saja: prinsip. Eko ini  dikenal orang yang cerdas dan wawasannya luas sehingga banyak kawan-kawannya yang meminta pandangan darinya. Mendengar pertanyaan dari Andi, seperti biasa Eko pun memberikan level pilihan dan Andi memilih level tertinggi. Prinsip itu berbunyi "Ukurlah manusia dalam kadar jasa, bukan kesukaan" . "Ukuran" yang dimaksud itu misalnya begini. Suatu waktu Eko melihat sebuah postingan isinya kira-kira begini: "Emang ya, kadang orang yang baru bahkan yang tidak dikenal itu lebih baik ke kita daripada orang yang udah lama kenal". Pernyataan di atas bisa jadi benar dalam situasi tertentu, tapi tidak tepat bahkan batal bila diukur dengan prinsip tadi. Eko memberi contoh. Ia punya teman lama, sebut saja Ahmad yang sudah dikenalnya 10 tahun lebih. Mot...

Contoh Teks Eksposisi tentang Lingkungan Alam

N asib Hutan Kita Semakin Suram Jika pemerintah tidak cepat bertindak dalam sepuluh tahun mendatang, hutan Sumatra akan musnah. Hilangnya hutan Sumatra akan diikuti oleh musnahnya hutan Kalimantan. Pengelolaan hutan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, kecenderungannya justru semakin memburuk. Kebakaran hutan masih terus terjadi dan penebangan liar semakin meningkat. Diperburuk lagi dengan rencana pembukaan lahan hutan lindung bagi pertambangan. Keadaan tersebut jelas menambah suram nasib hutan. Keterpurukan sektor kehutanan bersumber dari sistem pengelolaan yang didominasi oleh pemeritah pusat dan mengesampingkan keberadaan masyarakat lokal. Adanya konflik-konflik seperti konflik antar masyarakat lokal, masyarakat lokal dengan perusahaan, atau antara masyarakat lokal dengan Pemerintah, semakin memperburuk kondisi kehutanan di Indonesia. Selain itu, lemahnya penegakan hukum menyebabkan semakin parahnya kerusakan hutan. Kerusakan ...