Langsung ke konten utama

Jangan Pernah Lari dari Segala yang Menyeramkan

Ketakutan itu wajar. Semua orang punya. Tapi kalau terus dituruti dan dihindari, rasa takut justru makin besar. Manusia memang cenderung menjauh dari hal-hal yang tidak nyaman atau menegangkan. Padahal, salah satu cara paling efektif untuk melatih EQ adalah dengan berani menghadapinya.

Bukan berarti harus melakukan hal nekat atau mencari bahaya. Yang dimaksud adalah berani menghadapi konsekuensi. Misalnya tanpa sengaja merusak barang di rumah, apalagi itu milik ibu yang tegas. Sangat mudah untuk pura-pura tidak tahu atau menyalahkan hal lain. Namun memilih lari hanya akan membuat mental tetap lemah. Bayangan dimarahi memang menakutkan, tetapi justru di situlah latihannya: berani bertanggung jawab.

Sering kali ketakutan hanya hidup di kepala. Bisa saja nanti dimarahi, bisa juga ternyata dimaafkan. Apa pun hasilnya, yang penting berani menerima konsekuensinya. Di awal pasti ada rasa gemetar dan cemas. Itu normal. Namun jika terus dibiasakan, emosi akan semakin stabil dan daya tahan mental ikut meningkat.

Setiap orang seperti memiliki “tong” berisi kegugupan. Jika tidak pernah dikuras, isinya akan penuh terus. Cara menguranginya adalah dengan sering melatih diri tampil. Dalam seminar atau pertemuan, biasakan untuk bertanya atau menyampaikan pendapat. Dengan sering tampil, rasa gugup perlahan berkurang. Selain itu, kondisi fisik juga berpengaruh pada emosi. Saat gugup atau marah, jantung berdetak lebih cepat dan aliran darah meningkat. Dalam kondisi seperti itu, pikiran jernih sering terganggu. Karena itu, olahraga yang melatih jantung seperti lari, push-up, renang, atau bersepeda sangat membantu. Tubuh yang terbiasa dengan detak jantung cepat akan lebih mudah mengendalikan emosi saat situasi memanas.

Ada satu prinsip sederhana: yang lebih dulu kehilangan kendali emosi biasanya justru kalah. Dalam debat, orang yang terpancing emosi cenderung kehilangan alur berpikirnya. Dalam konflik fisik pun, kemarahan berlebihan membuat gerakan menjadi kaku. Hal yang sama terlihat dalam pertandingan olahraga, yaitu ketika pemain terpancing ejekan dan tidak bisa mengendalikan diri, performanya menurun.

Terima kasih sudah membaca 🍊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Roger vs Tiger

Menjadi Generalis atau Spesialis? Sebuah Perspektif Dari Kisah Roger Federer dan Tiger Woods Pada bagian pendahuluan buku Range karya David Epstein ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang dua atlet kelas dunia: Tiger Woods sebagai juara dunia golf dan Roger Federer sebagai juara dunia tenis. Kisah mereka saling bertolak belakang dan menggambarkan dengan jelas perbedaan antara menjadi seorang spesialis dan generalis. Roger Federer dan Tiger Woods Tiger Woods Kejeniusan Tiger Woods dalam bermain golf sudah disadari ayahnya sejak awal. Pada usia tujuh bulan, ayahnya memberikan tongkat golf untuk dijadikan sebagai mainan. Pada usia sepuluh bulan, ia merangkak turun dari kursi tinggi dan mengambil tongkat golf yang sudah dipendekkan mengikuti ukuran tubuhnya, dan mengayunkan tongkat seperti yang ia lihat pada ayahnya. Pada usia dua tahun ia sudah bisa memukul bola yang membuat aktor Amerika-Inggris, Bob Hope, merasa terkesan. Tiger kecil adalah orang terpilih untuk dunia golf, sehingg...

Mengulas Buku QUIET POWER: The Secret Strengths of Introverts

  Buku karya Susan Cain bersama dua kawannya yakni Gregory Mone dan Erica Moroz terdiri dari empat bab, yakni School, Socializing, Hobbies, dan Home. Namun tulisan kali ini saya hanya akan berfokus pada bab satu saja, yaitu School. Introduction Bagaimana perbedaan extrovert dan introvert? Para extrovert mereka yang menyelesaikan suatu masalah dengan keluar (berbicara) terlebih dahulu dibanding berpikir. Sedangkan introvert cenderung menyelesaikan suatu masalah di dalam otak dulu baru kemudian mengeluarkan idenya dalam suatu kesimpulan. Mereka lebih peka dan sensitif dalam indera. Gambar di atas menjadi gambaran antara extrovert dan introvert dalam berkomunikasi dan menyelesaikan suatu masalah. Lingkaran introvert penuh dengan coretan merah yang acak-acakkan, yang artinya seorang introvert otaknya ribut, sibuk melakukan observasi, menganalisa, mencerna suatu masalah dan kemudian keluar dengan satu kesimpulan yang berbobot. Sementara extrovert bisa dilihat coretan merahnya hanya sedi...

Keadaan Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad saw

Pada masa sebelum Islam bahkan kelahiran Rasulullah, masyarakat Arab berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma dan berbagai kebobrokan lainnya yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Berikut ini kondisi Arab sebelum kelahiran Nabi: 1. Kondisi Politik Kekuasaan yang berlaku saat itu adalah sistem diktator. Kepemimpinan politik disana didasarkan pada suku-suku atau kabilah- kabilah guna mempertahankan diri dari serangan suku-suku yang lain. Setiap suku atau kabilah dipimpin oleh syaikh yang biasanya dipilih oleh warga klan yang lebih tua dari salah satu keluarga yang berpengaruh dan ia senantiasa bertindak setelah meminta saran-saran mereka. 2. Kondisi Agama Pada awalnya mayoritas bangsa Arab menganut agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s dan dilanjutkan oleh putranya Nabi Ismail a.s. Waktu bergulir sekian lama, hingga banyak di antara mereka yang melalaikan ajaran yang pernah disampaikan kepada mereka. ...