Langsung ke konten utama

Hidup Seabad, Retas Sekedip


Hidup Seabad, Retas Sekedip

Akar yang perkasa,
Takluk pada tamak yang meraksasa.
Raga tegap nan gagah,
Rebah demi sekotak yang pasrah.

Dari pasak teguh menantang badai,
Kini meliuk bisu menjadi gulungan helai.
Mereka lupa, setiap lembar berarti jiwa yang terburai.
Setiap carik membawa jerit yang tak sampai.

Serat diperas, identitas dikuras habis.
Cokelat tubuh dibilas, dipaksa putih mengilap.
Dibasuh kimia hingga warnanya lenyap.
Menjelma selembar tipis, pengusap tangis.

Bertahun hidup, raib oleh sedetik kemudahan.
Dalih higienis dilontar, abai akan kehancuran.
Secarik ditarik untuk mengesat peluh,
Sementara dunia kehilangan teduh.

Sebuah tangis kering oleh selembar putih,
Sedang tak sadar ada duka lain yang lebih perih.
Yang tumbuh perlahan, luruh tanpa disesalkan.
Sekalipun petaka turut disemai dalam kenyamanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Roger vs Tiger

Menjadi Generalis atau Spesialis? Sebuah Perspektif Dari Kisah Roger Federer dan Tiger Woods Pada bagian pendahuluan buku Range karya David Epstein ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang dua atlet kelas dunia: Tiger Woods sebagai juara dunia golf dan Roger Federer sebagai juara dunia tenis. Kisah mereka saling bertolak belakang dan menggambarkan dengan jelas perbedaan antara menjadi seorang spesialis dan generalis. Roger Federer dan Tiger Woods Tiger Woods Kejeniusan Tiger Woods dalam bermain golf sudah disadari ayahnya sejak awal. Pada usia tujuh bulan, ayahnya memberikan tongkat golf untuk dijadikan sebagai mainan. Pada usia sepuluh bulan, ia merangkak turun dari kursi tinggi dan mengambil tongkat golf yang sudah dipendekkan mengikuti ukuran tubuhnya, dan mengayunkan tongkat seperti yang ia lihat pada ayahnya. Pada usia dua tahun ia sudah bisa memukul bola yang membuat aktor Amerika-Inggris, Bob Hope, merasa terkesan. Tiger kecil adalah orang terpilih untuk dunia golf, sehingg...

Patung yang Tampak Kurang Pas

  Pada bagian pendahuluan buku  Blink,  Malcolm Gladwell membuka kisah dengan cerita tentang sebuah patung Yunani kuno yang semula dianggap asli oleh para ahli, namun kemudian memunculkan keraguan hanya dengan sekali pandang. Judulnya, “Patung yang Tampak Kurang Pas”, mengambarkan bagaimana intuisi dapat bekerja lebih cepat daripada analisis logis yang panjang dan menghabiskan banyak waktu. Kisah ini dimulai pada bulan September 1983, dimana seorang pedagang barang seni bernama Gianfranco Becchina datang ke Museum J. Paul Getty di California. Ia ingin menjual sebuah patung yang dikenal dengan sebutan kourus, yang konon katanya hanya ada sekitar dua ratus di dunia. Patung ini berasal dari abad keenam belas Sebelum Masehi, sehingga Becchina menghargai patung ini sangat mahal, yakni mendekati 10 juta dolar. Museum Getty sangat tertarik dengan patung tersebut. Bagaimana tidak, kebanyakan patung-patung kourus ditemukan dalam keadaan rusak berat, sementara patung yang dijual Be...

Mengulas Buku QUIET POWER: The Secret Strengths of Introverts

  Buku karya Susan Cain bersama dua kawannya yakni Gregory Mone dan Erica Moroz terdiri dari empat bab, yakni School, Socializing, Hobbies, dan Home. Namun tulisan kali ini saya hanya akan berfokus pada bab satu saja, yaitu School. Introduction Bagaimana perbedaan extrovert dan introvert? Para extrovert mereka yang menyelesaikan suatu masalah dengan keluar (berbicara) terlebih dahulu dibanding berpikir. Sedangkan introvert cenderung menyelesaikan suatu masalah di dalam otak dulu baru kemudian mengeluarkan idenya dalam suatu kesimpulan. Mereka lebih peka dan sensitif dalam indera. Gambar di atas menjadi gambaran antara extrovert dan introvert dalam berkomunikasi dan menyelesaikan suatu masalah. Lingkaran introvert penuh dengan coretan merah yang acak-acakkan, yang artinya seorang introvert otaknya ribut, sibuk melakukan observasi, menganalisa, mencerna suatu masalah dan kemudian keluar dengan satu kesimpulan yang berbobot. Sementara extrovert bisa dilihat coretan merahnya hanya sedi...