Langsung ke konten utama

Kuncinya adalah Jam Terbang

Kuncinya adalah Jam Terbang. Semakin sering tampil, semakin baik. Di sini setidaknya ada 2 aspek yang penting. Pertama tentu saja adalah menghapus kekhawatiran dan ketakutan yang muncul. Orang yang minim pengalaman sudah pasti banyak ketakutan. Ini didukung oleh apa yang disebut dengan Negativity Bias, yakni kecenderungan otak itu mikirin hal-hal yang serem, bahaya, "Ah nanti bakal diejek" "Nanti kalau salah kena hukum'' dll. 

Aspek ini tidak sekadar menekankan untuk menghadapi dan melawan pikiran negatif semacam itu, tapi lebih jauh, adalah "Lho, ternyata segini doang" "Ternyata gapapa". Contoh, kamu sedang belajar nyetir mobil. Ketakutan terbesarnya tentu saja nabrak, atau minimal bikin baret mobilnya. Namun, di kalangan para sopir berpengalaman ada suatu kaidah; "Kalau belum pernah nabrak, berarti belum jago". Bukan berarti nabrak itu wajib atau syarat jadi jago nyetir tetapi mental setelah nabrak itulah yang menentukan: pilihannya hanya dua, kapok atau berubah iadi ahli.

Pikiran negatif tidak jarang benar-benar terjadi. Setelah kamu naik dan ternyata diejek beneran di atas sana, ada perasaan kecewa, marah dan menyesal karena sudah naik. Tapi makin sering kamu tampil, makin sering diejek, akhirnya: "Segini aja toh?''. Ternyata, diejek, disoraki, itu ya gitu aja pada akhirnya. Habis itu ya selesai, sudah. Jika sering tampil dan panggungmu semakin tinggi, nanti kamu akan tahu bahwa di atas sana justru nyaris tidak ada hinaan. Orang yang mengejekmu karena kamu tampil jelek itu karena kamu tampil di panggung kecil berisi anak-anak payah. Kalau forum itu berisi orang-orang bereputasi tinggi, justru malah dihormati betul.

Kedua, sudah pasti adalah semakin baik. Dengan semakin sering tampil, kamu akan semakin terasah. Tidak hanya mental, tapi juga kemampuanmu dalam berpikir, berbicara, intonasi semakin cakep, dst.

Kemampuan ini tidak hanya di dunia kerja saja: hampir semua sisi kehidupan butuh ini. Makanya selalu paksa diri latihan bicara (public speaking) bukan maksud agar kelak jadi motivator, dai, tokoh ini itu, politisi, bukan. Namanya kemampuan berbicara itu ya akan dipakai seumur hidup, entah nanti jadi apa kerja di mana itu nanti yang penting siap dulu, terlatih dulu. Begitu.


Semangat ^-^

Catatan Kapten
Terima kasih sudah membaca 🍊





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Roger vs Tiger

Menjadi Generalis atau Spesialis? Sebuah Perspektif Dari Kisah Roger Federer dan Tiger Woods Pada bagian pendahuluan buku Range karya David Epstein ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang dua atlet kelas dunia: Tiger Woods sebagai juara dunia golf dan Roger Federer sebagai juara dunia tenis. Kisah mereka saling bertolak belakang dan menggambarkan dengan jelas perbedaan antara menjadi seorang spesialis dan generalis. Roger Federer dan Tiger Woods Tiger Woods Kejeniusan Tiger Woods dalam bermain golf sudah disadari ayahnya sejak awal. Pada usia tujuh bulan, ayahnya memberikan tongkat golf untuk dijadikan sebagai mainan. Pada usia sepuluh bulan, ia merangkak turun dari kursi tinggi dan mengambil tongkat golf yang sudah dipendekkan mengikuti ukuran tubuhnya, dan mengayunkan tongkat seperti yang ia lihat pada ayahnya. Pada usia dua tahun ia sudah bisa memukul bola yang membuat aktor Amerika-Inggris, Bob Hope, merasa terkesan. Tiger kecil adalah orang terpilih untuk dunia golf, sehingg...

Patung yang Tampak Kurang Pas

  Pada bagian pendahuluan buku  Blink,  Malcolm Gladwell membuka kisah dengan cerita tentang sebuah patung Yunani kuno yang semula dianggap asli oleh para ahli, namun kemudian memunculkan keraguan hanya dengan sekali pandang. Judulnya, “Patung yang Tampak Kurang Pas”, mengambarkan bagaimana intuisi dapat bekerja lebih cepat daripada analisis logis yang panjang dan menghabiskan banyak waktu. Kisah ini dimulai pada bulan September 1983, dimana seorang pedagang barang seni bernama Gianfranco Becchina datang ke Museum J. Paul Getty di California. Ia ingin menjual sebuah patung yang dikenal dengan sebutan kourus, yang konon katanya hanya ada sekitar dua ratus di dunia. Patung ini berasal dari abad keenam belas Sebelum Masehi, sehingga Becchina menghargai patung ini sangat mahal, yakni mendekati 10 juta dolar. Museum Getty sangat tertarik dengan patung tersebut. Bagaimana tidak, kebanyakan patung-patung kourus ditemukan dalam keadaan rusak berat, sementara patung yang dijual Be...

Mengulas Buku QUIET POWER: The Secret Strengths of Introverts

  Buku karya Susan Cain bersama dua kawannya yakni Gregory Mone dan Erica Moroz terdiri dari empat bab, yakni School, Socializing, Hobbies, dan Home. Namun tulisan kali ini saya hanya akan berfokus pada bab satu saja, yaitu School. Introduction Bagaimana perbedaan extrovert dan introvert? Para extrovert mereka yang menyelesaikan suatu masalah dengan keluar (berbicara) terlebih dahulu dibanding berpikir. Sedangkan introvert cenderung menyelesaikan suatu masalah di dalam otak dulu baru kemudian mengeluarkan idenya dalam suatu kesimpulan. Mereka lebih peka dan sensitif dalam indera. Gambar di atas menjadi gambaran antara extrovert dan introvert dalam berkomunikasi dan menyelesaikan suatu masalah. Lingkaran introvert penuh dengan coretan merah yang acak-acakkan, yang artinya seorang introvert otaknya ribut, sibuk melakukan observasi, menganalisa, mencerna suatu masalah dan kemudian keluar dengan satu kesimpulan yang berbobot. Sementara extrovert bisa dilihat coretan merahnya hanya sedi...