Pada dasarnya, lupa itu adalah hal normal. Itu wajar. Sekarang kita anggap otak normal manusia di sini bernilai 50. Kadang ingat kadang juga lupa, pokoknya imbang. Ada juga yang nilai ingatannya 100, yakni otak super yang dikenal dengan ingatan fotografi.
Dari 50 tadi, otakmu bisa turun ke 40, 30, ini yang disebut dengan otak pelupa, yang disebabkan oleh banyak hal. Yang paling merusak adalah segala sesuatu yang diakibatkan oleh zat kimia, misal alkohol atau narkoba. Otakmu bisa merosot sampai ke nilai 20 ke bawah karena terlalu parah.
Oke, katakanlah kamu anak baik-baik yang tidak pakai zat kimia tadi, tapi otak masih lelet? Ada satu penyebab kenapa otak bisa babak belur parah sekali. Satu penyebab yang dianggap remeh atau bahkan dianggap keren: stres. Lalu kurang tidur. Sering begadang. Memang tidak selalu, tapi salah satu pemicu sulit tidur adalah stres. Apalagi orang-orang insecure, tidak enakan, overthinking, baperan, susah syukur, hidupnya melow-melow terus, wah bahaya, otakmu sekarat. Anak melow salah satu penyebabnya adalah stres. Tidak bisa berfikir, fokus, tidak bisa produktif, lalu mengutuk nasib. Atau kalau tidak pakai kaidah umum ala-ala: "Semua akan indah pada waktunya..."
Cara menghilangkan stres? Resep ala Ibnu Hazim: Jauhi kebodohan.
Jika terlalu rumit, maka gunakan resep sederhana: kalo capek, istirahat sebentar. Ngopi-ngopi, curhat ke sahabat yang paling amanah jaga rahasia. Jangan mengumbar luka seolah paling menderita. Jangan. Malu-maluin iya, solutif kagak. (Kembali ke pilihan masing-masing mah kalau ini, eheheh)
Jika otakmu dalam nilai 40 ke bawah, maka pastikan untuk tidak kurang tidur. Ini wajib. Jangan nurutin overthinking malam-malam.
Kemudian dipenjelasan itu, ada bagian yang menarik: beri perhatian penuh terhadap objek. Kita pasti punya teman yang setiap ngumpul, ngopi, pasti ada saja drama barang lupa naruh. Entah itu kunci motor, dompet, HP, pokoknya ada saja yang hilang. Cara supaya tidak lupa naruh barang: Ini gampang, misal ngopi, wajib untuk naruh kunci, HP, dompet dan lainnya didepan. Di meja dan harus kelihatan mata. Terapkan mosi tidak percaya ke diri sendiri: pokoknya harus taruh depan, nampak mata, titik. Begitu juga kalau baca buku, nyimak materi dikelas, ikut talkshow, webinar atau apapun itu, mosi tidak percaya ke diri sendiri: WAJIB NYATET. Tulis tangan. Omong kosong rekam, foto. Omong kosong sama "ah ngga usah nulis ntar juga ingat".
Kecuali kalo kamu terbukti punya otak super yakni ingatan fotografi, maka silakan ngga nyatet. Otak standar? Wajib nyatet. Jangan baca buku, baca doang selesai, udah. Bacalah sambil nyatet. Apa yang dicatat? Terserah, bebas. Pokoknya harus ada yang dicatat. Kaidah "Ikatlah ilmu dengan menulis" bukan tanpa alasan: itu solusi bagi otak-otak dibawah standar seperti kita. "...kecuali kamu selevel Imam Syafi'i..." Sang imam sekali lihat langsung hafal, satu kitab hafal hanya sekali duduk, lah kita?
Maka, biasakan nyatet. Terapkan mosi tidak percaya dengan tegas: "Saya tidak jenius, saya orangnya pelupa, maka saya harus nyatet". Sudah otak lelet, tidak mau nyatet, dikelas tidur atau main HP. Di kitab Ta'limul Mu'taalim, orang kayak gini diejek dengan kalimat "Jununu Fununu" (orang gila itu ya macam-macam tingkahnya).
Ini adalah Catatan Kapten
Terima kasih sudah membaca 🍊
Komentar
Posting Komentar