Kekuasaan yang berlaku saat itu adalah sistem diktator. Kepemimpinan politik disana didasarkan pada suku-suku atau kabilah-kabilah guna mempertahankan diri dari serangan suku-suku yang lain. Setiap suku atau kabilah dipimpin oleh syaikh yang biasanya dipilih oleh warga klan yang lebih tua dari salah satu keluarga yang berpengaruh dan ia senantiasa bertindak setelah meminta saran-saran mereka.
2. Kondisi Agama
Pada awalnya mayoritas bangsa Arab menganut agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s dan dilanjutkan oleh putranya Nabi Ismail a.s. Waktu bergulir sekian lama, hingga banyak di antara mereka yang melalaikan ajaran yang pernah disampaikan kepada mereka. Keadaan tersebut mulai terlihat sejak munculnya Amr bin Luhay, pemimpin Bani Khuza’ah. Ia dikenal sebagai orang yang gemar ibadah dan beramal baik sehingga masyarakat waktu itu menempatkannya sebagai seorang ulama. Kemudian dia pergi ke daerah Syam. Ketika mendapati para penduduknya beribadah kepada berhala-berhala, Amr menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan benar. Apalagi, Syam tempat Nabi dan Rasul. Ketika pulang, Amr membawa berhala yang bernama Hubal dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Setelah itu dia menyeru penduduk Makkah untuk membuat persekutuan terhadap Allah. Disambutlah seruan itu oleh masyarakat Hijaz, Makkah, Madinah dan sekitarnya karena disangka sebagai hal yang benar.
3. Kondisi Sosial
Hubungan sosial pada masa itu ditentukan oleh ikatan darah dan emosi, bukan ikatan-ikatan kemanusiaan dan keagamaan sebagaimana yang nanti ditawarkan oleh Islam. Penduduknya terbagi beberapa kelas masyarakat. Kelas bangsawan adalah yang paling dihormati. Wanita bangsawan bisa mengumpulkan kabilah untuk perdamaian atau peperangan. Namun kepemimpinan tetap di tangan laki-laki. Sedangkan kelas masyarakat lainnya beragam dan mempunyai kebebasan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah, bahwa pernikahan pada masa Jahiliyah ada empat macam, yaitu pernikahan spontan, nikah istibdha, poliandri dan pelacuran.
Ada pula di antara mereka yang mengubur hidup-hidup anak putrinya, karena takut aib dan karena kemunafikan, atau membunuh anak laki-laki karena takut miskin dan lapar. Masalah ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an. “Dan, janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (Al-An’am: 151).
4. Kondisi Ekonomi
Sumber ekonomi utama yang menjadi penghasilan orang Arab adalah perdagangan dan bisnis. Perdagangan menjadi darah daging orang-orang Quraisy sepeti yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (Quraisy: 1-2). Mereka melakukan perjalanan bisnis ke Yaman pada musim dingin dan ke Syam pada musim panas.
Perekonomian bangsa Arab di negeri Yaman yang merupakan negeri yang subur, khususnya di sekitar bendungan Ma’rib, di mana pertanian maju secara pesat dan menakjubkan. Di masa itu juga telah berkembang industri, seperti industri kain katun dan persenjataan berupa pedang, tombak, dan baju besi. Akan tetapi, mereka tidak bersyukur dan justru berpaling dari ketaatan kepada Allah. Karena kekufuran itu, Allah pun menghancurkan bendungan Ma’rib tersebut.
5. Kondisi Moral
Pada dasarnya masyarakat Arab Jahiliyah memiliki sejumlah sifat-sifat positif, seperti sifat dermawan, pemberani, setia, ramah, sederhana, lemah lembut dan suka menolong. Namun, itu semua menjadi tenggelam dan tidak mampu menampilkan moralitas tinggi masyarakat Arab saat itu. Hal ini disebabkan oleh suatu kondisi yang menyelimuti kehidupan mereka, yaitu kemusyrikan, kekafiran, ketidakadilan, kejahatan dan fanatisme suku-suku.
Daftar Pustaka:
Shafiyyurrahma Al-Mubarakfuri, Syaikh. 1997. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Tarigan, Mardinal. 2023. Peradaban Islam: Peradaban Arab Pra-Islam.
NAP, Gorontalo.
Komentar
Posting Komentar