Langsung ke konten utama

Keadaan Arab Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad saw



Pada masa sebelum Islam bahkan kelahiran Rasulullah, masyarakat Arab berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma dan berbagai kebobrokan lainnya yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Berikut ini kondisi Arab sebelum kelahiran Nabi:

1. Kondisi Politik
Kekuasaan yang berlaku saat itu adalah sistem diktator. Kepemimpinan politik disana didasarkan pada suku-suku atau kabilah-kabilah guna mempertahankan diri dari serangan suku-suku yang lain. Setiap suku atau kabilah dipimpin oleh syaikh yang biasanya dipilih oleh warga klan yang lebih tua dari salah satu keluarga yang berpengaruh dan ia senantiasa bertindak setelah meminta saran-saran mereka.

2. Kondisi Agama
Pada awalnya mayoritas bangsa Arab menganut agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s dan dilanjutkan oleh putranya Nabi Ismail a.s. Waktu bergulir sekian lama, hingga banyak di antara mereka yang melalaikan ajaran yang pernah disampaikan kepada mereka.  Keadaan tersebut mulai terlihat sejak munculnya Amr bin Luhay, pemimpin Bani Khuza’ah. Ia dikenal sebagai orang yang gemar ibadah dan beramal baik sehingga masyarakat waktu itu menempatkannya sebagai seorang ulama. Kemudian dia pergi ke daerah Syam. Ketika mendapati para penduduknya beribadah kepada berhala-berhala, Amr menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan benar. Apalagi, Syam tempat Nabi dan Rasul. Ketika pulang, Amr membawa berhala yang bernama Hubal dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Setelah itu dia menyeru penduduk Makkah untuk membuat persekutuan terhadap Allah. Disambutlah seruan itu oleh masyarakat Hijaz, Makkah, Madinah dan sekitarnya karena disangka sebagai hal yang benar.

3. Kondisi Sosial
Hubungan sosial pada masa itu ditentukan oleh ikatan darah dan emosi, bukan ikatan-ikatan kemanusiaan dan keagamaan sebagaimana yang nanti ditawarkan oleh Islam. Penduduknya terbagi beberapa kelas masyarakat. Kelas bangsawan adalah yang paling dihormati. Wanita bangsawan bisa mengumpulkan kabilah untuk perdamaian atau peperangan. Namun kepemimpinan tetap di tangan laki-laki. Sedangkan kelas masyarakat lainnya beragam dan mempunyai kebebasan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah, bahwa pernikahan pada masa Jahiliyah ada empat macam, yaitu pernikahan spontan, nikah istibdha, poliandri dan pelacuran. 

Ada pula di antara mereka yang mengubur hidup-hidup anak putrinya, karena takut aib dan karena kemunafikan, atau membunuh anak laki-laki karena takut miskin dan lapar. Masalah ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an. “Dan, janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (Al-An’am: 151).

4. Kondisi Ekonomi 
Sumber ekonomi utama yang menjadi penghasilan orang Arab adalah perdagangan dan bisnis. Perdagangan menjadi darah daging orang-orang Quraisy sepeti yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (Quraisy: 1-2). Mereka melakukan perjalanan bisnis ke Yaman pada musim dingin dan ke Syam pada musim panas.

Perekonomian bangsa Arab di negeri Yaman yang merupakan negeri yang subur, khususnya di sekitar bendungan Ma’rib, di mana pertanian maju secara pesat dan menakjubkan. Di masa itu juga telah berkembang industri, seperti industri kain katun dan persenjataan berupa pedang, tombak, dan baju besi. Akan tetapi, mereka tidak bersyukur dan justru berpaling dari ketaatan kepada Allah. Karena kekufuran itu, Allah pun menghancurkan bendungan Ma’rib tersebut.

5. Kondisi Moral 
Pada dasarnya masyarakat Arab Jahiliyah memiliki sejumlah sifat-sifat positif, seperti sifat dermawan, pemberani, setia, ramah, sederhana, lemah lembut dan suka menolong. Namun, itu semua menjadi tenggelam dan tidak mampu menampilkan moralitas tinggi masyarakat Arab saat itu. Hal ini disebabkan oleh suatu kondisi yang menyelimuti kehidupan mereka, yaitu kemusyrikan, kekafiran, ketidakadilan, kejahatan dan fanatisme suku-suku.


Daftar Pustaka:

Shafiyyurrahma Al-Mubarakfuri, Syaikh. 1997. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Tarigan, Mardinal. 2023. Peradaban Islam: Peradaban Arab Pra-Islam. 


NAP, Gorontalo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Roger vs Tiger

Menjadi Generalis atau Spesialis? Sebuah Perspektif Dari Kisah Roger Federer dan Tiger Woods Pada bagian pendahuluan buku Range karya David Epstein ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang dua atlet kelas dunia: Tiger Woods sebagai juara dunia golf dan Roger Federer sebagai juara dunia tenis. Kisah mereka saling bertolak belakang dan menggambarkan dengan jelas perbedaan antara menjadi seorang spesialis dan generalis. Roger Federer dan Tiger Woods Tiger Woods Kejeniusan Tiger Woods dalam bermain golf sudah disadari ayahnya sejak awal. Pada usia tujuh bulan, ayahnya memberikan tongkat golf untuk dijadikan sebagai mainan. Pada usia sepuluh bulan, ia merangkak turun dari kursi tinggi dan mengambil tongkat golf yang sudah dipendekkan mengikuti ukuran tubuhnya, dan mengayunkan tongkat seperti yang ia lihat pada ayahnya. Pada usia dua tahun ia sudah bisa memukul bola yang membuat aktor Amerika-Inggris, Bob Hope, merasa terkesan. Tiger kecil adalah orang terpilih untuk dunia golf, sehingg...

Mengulas Buku QUIET POWER: The Secret Strengths of Introverts

  Buku karya Susan Cain bersama dua kawannya yakni Gregory Mone dan Erica Moroz terdiri dari empat bab, yakni School, Socializing, Hobbies, dan Home. Namun tulisan kali ini saya hanya akan berfokus pada bab satu saja, yaitu School. Introduction Bagaimana perbedaan extrovert dan introvert? Para extrovert mereka yang menyelesaikan suatu masalah dengan keluar (berbicara) terlebih dahulu dibanding berpikir. Sedangkan introvert cenderung menyelesaikan suatu masalah di dalam otak dulu baru kemudian mengeluarkan idenya dalam suatu kesimpulan. Mereka lebih peka dan sensitif dalam indera. Gambar di atas menjadi gambaran antara extrovert dan introvert dalam berkomunikasi dan menyelesaikan suatu masalah. Lingkaran introvert penuh dengan coretan merah yang acak-acakkan, yang artinya seorang introvert otaknya ribut, sibuk melakukan observasi, menganalisa, mencerna suatu masalah dan kemudian keluar dengan satu kesimpulan yang berbobot. Sementara extrovert bisa dilihat coretan merahnya hanya sedi...

Jenis - Jenis Wayang

Wayang adalah seni pertunjukan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia.Wayang kulit dilihat dari umur,dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi bermacam jenis. Diantara nya yaitu : 1.Wayang Purwa   Wayang purwa, Purwa  berasal dari bahasa Jawa yang berarti awal.Selain wayang Purwa, jenis wayang kulit yang lain diantaranya yaitu : wayang madya,wayang gedog dan wayang dupara. 2.Wayang Wong  Wayang wong adalah salah satu seni pertunjukan wayang yang diperankan langsung oleh orang. 3.Wayang Golek Wayang golek adalah jenis wayang yang mempertunjukan boneka kayu. 4.Wayang Suket    Wayang suket yaitu wayang yang terbuat dari rumput.  5.Wayang Motekar   Wayang motekar atau wayang plastik berwarna.   Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kehidupan antara lain sebagai media pendidikan,media informasi,dan media hib...