Nabi Muhammad saw lahir di Kota Makkah pada 9 Rabiul Awal 571 Masehi. Tahun kelahirannya sering disebut sebagai Tahun Gajah. Disebut Tahun Gajah karena menjelang kelahiran nabi ada peristiwa penyerbuan pasukan Raja Abrahah yang menggunakan gajah ingin menyerang Ka’bah dihancurkan oleh burung-burung Ababil yang membawa batu-batu neraka. Beliau yatim sejak bayi, karena ayahnya meninggal dunia di Madinah sebelum kelahirannya.
Ada perbedaan pendapat terkait tanggal pasti kelahiran Nabi Muhammad saw. Pendapat pertama disampaikan oleh Imam Ibnu Ishaq bahwa nabi lahir tanggal 12. Pendapat kedua, oleh Ibnu Dihyah bahwa nabi lahir tanggal 10. Pendapat ketiga, oleh Mahmud Al-Falak Al-Mashari bahwa nabi lahir tanggal 9. Namun ada beberapa fakta yang disepakati oleh sejarawan Muslim:
1. Nabi Muhammad saw lahir pada Tahun Gajah
2. Beliau dilahirkan pada bulan Rabiul Awal
3. Beliau lahir pada hari Senin. Berdasarkan riwayat dari Imam Muslim, ketika nabi ditanya mengapa beliau berpuasa pada hari Senin, beliau menjawab, “Itulah hari saat aku dilahirkan.
Kemudian pada ke-18 M, ahli ilmu falak Mesir bernama Mahmud Basya membuktikan keabsahan ketiga pendapat tersebut dengan meninjau peristiwa langit yang terjadi pada masa nabi. Dia menemukan peristiwa gerhana sebagaimana diriwayatkan hadis shahih tentang meninggalnya anak Nabi Muhammad bernama Ibrahim itu benar terjadi setelah bulan Syawal tahun ke-10 Hijriah saat umur nabi 63 tahun. Lalu atas patokan ini, terus dihitung mundur ke tahun, bulan dan hari pertama kelahiran nabi. Karena riwayat shahih nabi lahir hari Senin, di dapati hari Senin itu jatuh tanggal 9 Rabiul Awal bukan 12 Rabiul Awal bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M.
Setelah Aminah melahirkan, ia segera mengutus seseorang untuk mengabarkan tentang kelahiran putranya kepada Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad saw. Abdul Muthalib menyambutnya dengan gembira dan kemudian membawa bayi Nabi Muhammad saw ke Ka’bah seraya berdoa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. Pada waktu itu juga bangsa Arab mempunyai kebiasaan untuk menyerahkan penyusuan anak-anak mereka kepada perempuan lain dengan harapan agar anak tersebut tumbuh sebagai anak yang kuat dan fasih berbahasa Arab. Berdasarkan kebiasaan inilah Abdul Muthalib menyerahkan cucunya kepada Halimah bin Abu Dzu’aib. Ketika merawat nabi, ada banyak keberkahan yang hadir dalam hidup Halimah. Kehidupannya berubah total yang sebelumnya hidup serba kekurangan, kini menjadi lebih damai dan berkecukupan.
Pada saat nabi berusia empat atau lima tahun, terjadilah peristiwa luar biasa. Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad saw yang saat itu sedang bermain bersama anak lainnya dan membawanya ke tempat yang agak jauh. Kemudian Jibril membelah dada Nabi Muhammad dan membersihkan hatinya dengan air zam-zam supaya dipenuhi dengan cahaya iman dan persiapan menjadi utusan Allah Swt. Pasca peristiwa pembelahan dada itu, Halimah merasa sangat khawatir terhadap keselamatan Nabi Muhammad sehingga dia mengembalikan beliau kepada ibunya. Maka nabi pun hidup bersama ibunda tercinta hingga berumur enam tahun.
Saat nabi berusia enam tahun, beliau berziarah ke makam ayahnya di Yatsrib bersama ibunya dan pembantu wanita, Ummu Aiman. Namun dalam perjalanan pulang ke Makkah, ibunya jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia di Abwa’, daerah yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Kepergian ibunya membuat Nabi Muhammad saw diasuh kakeknya, Abdul Muthalib. Setelah dua tahun diasuh kakeknya, Abdul Muthalib meninggal dunia pada umur nabi yang kedelapan tahun. Sebelum meninggal Abdul Muthalib berpesan agar cucunya diasuh oleh anaknya yaitu Abu Thalib paman Nabi Muhammad saw.
Ketika nabi berusia 12 tahun, beliau melakukan perjalanan dagang bersama pamannya, Abu Thalib dari Makkah ke Syam. Kemudian mereka bertemu dengan pendeta yang bernama Buhaira yang melihat tanda kerasulan nabi. Akhirnya pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad saw diutus Allah sebagai penutup para nabi dan rasul, membawa ajaran Islam kepada seluruh umat manusia dan menjadi pemimpin serta rahmat bagi semesta alam.
Daftar Pustaka:
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Syaikh. 1997. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Hidcom, Admin. (2016, 11 Desember). Rasulullah Lahir Pada 9 atau 12 Rabi’ul Awwal?. Hidayatullah.com. Diakses pada Senin, 29 Juli 2024 Pukul 08:10 WITA. https://hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/2016/12/11/107484/rasulullah-lahir-pada-9-atau-12-rabiul-awwal.html
NAP, Gorontalo.
Komentar
Posting Komentar