Di luar sana, banyak orang banyak yang beruntung disemua hal: interaksi sosialnya bagus, sehingga dia memiliki banyak teman. Namanya terkenal dan populer, sehingga banyak yang mencintainya. Juga hal-hal sejenis seperti strata sosial, harta, good looking, dan lainnya, membuatnya dianugerahi jalan hidup yang nyaris sempurna. Orang yang seperti ini beruntung. Ketika kesusahan, pasti banyak yang membantu. Dia menerima banyak ucapan selamat ketika kelulusan dan kado-kado ketika ulang tahun.
Di sini, kita justru diajak untuk melihat mereka yang tidak dianugerahi hal yang demikian tadi. Kaidah ini melihat sosok yang tidak populer, cenderung dijauhi, kurang beruntung pada kemampuan bersosialisasi, atau gampangnya: orang yang tidak dicintai.
Dunia ini berlaku hukum yang unik: belum tentu kamu orang baik yang berbuat baik akan dianggap baik dan menerima hal baik. Sebaik-baik manusia, ia tidak lepas dari fitnah, cobaan, atau yang semacam ini. Artinya, banyak orang baik, pejuang, orang ikhlas, tapi dia tidak beruntung, tidak dicintai, bahkan dituduh ini itu. Memang seperti itu kenyataannya. Bahkan sangat sering dijumpai orang yang perjuangannya tidak seberapa atau bahkan tidak berkontribusi apa-apa, tapi menerima penghargaan. Sedangkan sosok yang sudah berjuang keras sepanjang waktu dan mengorbankan banyak hal justru dianggap perusak dan tidak diapresiasi sama sekali.
Kaidah ini mengajak kita untuk melihat orang yang sedang tidak beruntung ini. Gampangnya, anak baik dan populer itu sudah pasti menerima banyak kado ketika dia ultah. Sedangkan anak baik yang tidak beruntung, jangankan kado, ucapan selamat saja belum tentu dapat. Jika seandainya disuruh memilih mana dulu yang harus dihadiahi kado, berikan ke anak yang kedua. Sebab anak pertama sudah menerima banyak. Jika dia punya 100 teman dan hanya kamu yang tidak menghadiahkan kado, itu bukan jadi masalah besar sebab dia punya 99 kado.Tetapi satu kado yang kamu berikan ke anak yag tidak beruntung itu, satu saja, itu sangat berarti.
Di sekeliling kita pasti ada banyak karakter yang tangguh, tidak pernah mengeluh, tapi sebenarnya masalahnya banyak dan babak belur. Tidak beruntung dibanyak hal, tapi tetap tegar dan menolak tumbang. Ibarat saking sulitnya, dia sehari-hari hanya makan nasi kecap. Tapi dia selalu bersyukur dan seolah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Seharusnya, dia lah yang paling harus ditraktir ke tempat yang "wah" jika memang lagi pengen jajan. Sebab, jika sehari-hari dia hanya makan nasi kecap lalu kamu ajak makan ayam geprek, itu sangat berarti baginya. Sebaliknya, orang yang sehari-hari makan makanan mahal, kamu coba traktir ke mekdi misal, jelas tidak sebanding dengan yang tadi nilainya.
Orang yang beruntung yang memiliki banyak teman, dia juga beruntung secara emosional. Bagaimana dengan teman lain kita yang tertutup, selalu sendirian dan kurang lihai dalam bersosialisasi? Kepada siapa dia curhat? Siapa yang ngajak dia ngopi dan nongkrong? Dia juga manusia biasa yang butuh dukungan emosional. Setidaknya, dia juga ingin memiliki teman duduk.
Dia bukan orang jahat, bukan pembunuh juga, bukan anti sosial. Dia hanya orang yang kurang beruntung. Lebih pedulilah dengan orang yang seperti ini. Jangan melulu kagum dengan mereka yang dianugerahi cahaya. Ada banyak tangan yang butuh diraih oleh kita diuar sana.
Ini adalah catatan Kapten
Terima kasih sudah membacaš
Komentar
Posting Komentar