Langsung ke konten utama

Berilah Banyak ke Dia yang Kebagian Sedikit

 

Di luar sana, banyak orang banyak yang beruntung disemua hal: interaksi sosialnya bagus, sehingga dia memiliki banyak teman. Namanya terkenal dan populer, sehingga banyak yang mencintainya. Juga hal-hal sejenis seperti strata sosial, harta, good looking, dan lainnya, membuatnya dianugerahi jalan hidup yang nyaris sempurna. Orang yang seperti ini beruntung. Ketika kesusahan, pasti banyak yang membantu. Dia menerima banyak ucapan selamat ketika kelulusan dan kado-kado ketika ulang tahun. 

Di sini, kita justru diajak untuk melihat mereka yang tidak dianugerahi hal yang demikian tadi. Kaidah ini melihat sosok yang tidak populer, cenderung dijauhi, kurang beruntung pada kemampuan bersosialisasi, atau gampangnya: orang yang tidak dicintai. 

Dunia ini berlaku hukum yang unik: belum tentu kamu orang baik yang berbuat baik akan dianggap baik dan menerima hal baik. Sebaik-baik manusia, ia tidak lepas dari fitnah, cobaan, atau yang semacam ini. Artinya, banyak orang baik, pejuang, orang ikhlas, tapi dia tidak beruntung, tidak dicintai, bahkan dituduh ini itu. Memang seperti itu kenyataannya. Bahkan sangat sering dijumpai orang yang perjuangannya tidak seberapa atau bahkan tidak berkontribusi apa-apa, tapi menerima penghargaan. Sedangkan sosok yang sudah berjuang keras sepanjang waktu dan mengorbankan banyak hal justru dianggap perusak dan tidak diapresiasi sama sekali.

Kaidah ini mengajak kita untuk melihat orang yang sedang tidak beruntung ini. Gampangnya, anak baik dan populer itu sudah pasti menerima banyak kado ketika dia ultah. Sedangkan anak baik yang tidak beruntung, jangankan kado, ucapan selamat saja belum tentu dapat. Jika seandainya disuruh memilih mana dulu yang harus dihadiahi kado, berikan ke anak yang kedua. Sebab anak pertama sudah menerima banyak. Jika dia punya 100 teman dan hanya kamu yang tidak menghadiahkan kado, itu bukan jadi masalah besar sebab dia punya 99 kado.Tetapi satu kado yang kamu berikan ke anak yag tidak beruntung itu, satu saja, itu sangat berarti.

Di sekeliling kita pasti ada banyak karakter yang tangguh, tidak pernah mengeluh, tapi sebenarnya masalahnya banyak dan babak belur. Tidak beruntung dibanyak hal, tapi tetap tegar dan menolak tumbang. Ibarat saking sulitnya, dia sehari-hari hanya makan nasi kecap. Tapi dia selalu bersyukur dan seolah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Seharusnya, dia lah yang paling harus ditraktir ke tempat yang "wah" jika memang lagi pengen jajan. Sebab, jika sehari-hari dia hanya makan nasi kecap lalu kamu ajak makan ayam geprek, itu sangat berarti baginya. Sebaliknya, orang yang sehari-hari makan makanan mahal, kamu coba traktir ke mekdi misal, jelas tidak sebanding dengan yang tadi nilainya.

Orang yang beruntung yang memiliki banyak teman, dia juga beruntung secara emosional. Bagaimana dengan teman lain kita yang tertutup, selalu sendirian dan kurang lihai dalam bersosialisasi? Kepada siapa dia curhat? Siapa yang ngajak dia ngopi dan nongkrong? Dia juga manusia biasa yang butuh dukungan emosional. Setidaknya, dia juga ingin memiliki teman duduk.

Dia bukan orang jahat, bukan pembunuh juga, bukan anti sosial. Dia hanya orang yang kurang beruntung. Lebih pedulilah dengan orang yang seperti ini. Jangan melulu kagum dengan mereka yang dianugerahi cahaya. Ada banyak tangan yang butuh diraih oleh kita diuar sana.

Ini adalah catatan Kapten
Terima kasih sudah membacašŸŠ 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Roger vs Tiger

Menjadi Generalis atau Spesialis? Sebuah Perspektif Dari Kisah Roger Federer dan Tiger Woods Pada bagian pendahuluan buku Range karya David Epstein ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang dua atlet kelas dunia: Tiger Woods sebagai juara dunia golf dan Roger Federer sebagai juara dunia tenis. Kisah mereka saling bertolak belakang dan menggambarkan dengan jelas perbedaan antara menjadi seorang spesialis dan generalis. Roger Federer dan Tiger Woods Tiger Woods Kejeniusan Tiger Woods dalam bermain golf sudah disadari ayahnya sejak awal. Pada usia tujuh bulan, ayahnya memberikan tongkat golf untuk dijadikan sebagai mainan. Pada usia sepuluh bulan, ia merangkak turun dari kursi tinggi dan mengambil tongkat golf yang sudah dipendekkan mengikuti ukuran tubuhnya, dan mengayunkan tongkat seperti yang ia lihat pada ayahnya. Pada usia dua tahun ia sudah bisa memukul bola yang membuat aktor Amerika-Inggris, Bob Hope, merasa terkesan. Tiger kecil adalah orang terpilih untuk dunia golf, sehingg...

Prinsip Kebaikan dan Jasa

Prinsip Kebaikan dan Jasa Ada sebuah cerita tentang dua orang kawan sedang duduk bersama. Sebut saja Andi dan Eko. Andi meminta satu hal pada Eko, sesuatu yang bisa dia pegang selamanya. Kita sebut saja: prinsip. Eko ini  dikenal orang yang cerdas dan wawasannya luas sehingga banyak kawan-kawannya yang meminta pandangan darinya. Mendengar pertanyaan dari Andi, seperti biasa Eko pun memberikan level pilihan dan Andi memilih level tertinggi. Prinsip itu berbunyi "Ukurlah manusia dalam kadar jasa, bukan kesukaan" . "Ukuran" yang dimaksud itu misalnya begini. Suatu waktu Eko melihat sebuah postingan isinya kira-kira begini: "Emang ya, kadang orang yang baru bahkan yang tidak dikenal itu lebih baik ke kita daripada orang yang udah lama kenal". Pernyataan di atas bisa jadi benar dalam situasi tertentu, tapi tidak tepat bahkan batal bila diukur dengan prinsip tadi. Eko memberi contoh. Ia punya teman lama, sebut saja Ahmad yang sudah dikenalnya 10 tahun lebih. Mot...

Contoh Teks Eksposisi tentang Lingkungan Alam

N asib Hutan Kita Semakin Suram Jika pemerintah tidak cepat bertindak dalam sepuluh tahun mendatang, hutan Sumatra akan musnah. Hilangnya hutan Sumatra akan diikuti oleh musnahnya hutan Kalimantan. Pengelolaan hutan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, kecenderungannya justru semakin memburuk. Kebakaran hutan masih terus terjadi dan penebangan liar semakin meningkat. Diperburuk lagi dengan rencana pembukaan lahan hutan lindung bagi pertambangan. Keadaan tersebut jelas menambah suram nasib hutan. Keterpurukan sektor kehutanan bersumber dari sistem pengelolaan yang didominasi oleh pemeritah pusat dan mengesampingkan keberadaan masyarakat lokal. Adanya konflik-konflik seperti konflik antar masyarakat lokal, masyarakat lokal dengan perusahaan, atau antara masyarakat lokal dengan Pemerintah, semakin memperburuk kondisi kehutanan di Indonesia. Selain itu, lemahnya penegakan hukum menyebabkan semakin parahnya kerusakan hutan. Kerusakan ...