Langsung ke konten utama

Waktu


Kaidah dasarnya adalah: waktu itu berjalan ke depan. Ke depan, A ke B, ke C. Jam 1 ke jam 2. Januari ke Desember. Itu waktu. Pun jika ternyata habis jam 12 balik ke jam 1, maka udah ganti hari. Jika Desember kembali ke Januari, maka itu 2025 ganti 2026. Kemarin hari Jum'at, tapi Jum'at yang akan datang adalah Jum'at yang baru, bukan kembali ke Jum'at yang kemarin.


Sekarang, kita mengerti bahwa panah waktu itu ke depan. Tidak pernah kembali ke belakang. Di sini, seharusnya, kamu mengerti bahwa:
- Meratapi kesalahan atau penyesalan masa lalu itu percuma, sebab panahnya ngga pernah bisa balik 
- Buru-buru menuju ke masa depan juga ngga bagus, sebab tanpa dipercepat, kita udah pasti ke sana

Kita pasti sering mendengar pesan dari teman, "Ngga perlu buru-buru pengen cepet lulus. Nikmati yang ada sekarang, waktunya belajar ya belajar, tapi kalo temen pas weekend ngajak main, ngopi, ya gaskan". Seperti masa SMA dulu, itu selamanya ngga bakal pernah bisa diulang. Makanya kalo ada temen, entah temen kelas atau dari jauh (tamu), fokuslah ke dia. Ajak dia ngobrol dan tuker cerita. Jika kalian ngobrol asik pada 1 Januari 2026, sekarang sudah masuk Februari, itu udah jadi masa lalu. Tidak pernah ada jaminan bulan depan bisa ketemu lagi. Malah bisa jadi, itulah momen terakhir. Fokus pada momen "sekarang" bukan kemarin atau nanti.

Bayangkan sekarang kamu baca tulisan ini pada hari Sabtu 14 Februari 2026, di kos bersama teman-temanmu. Itulah momen "sekarang" yang harus kamu nikmati. Silakan ngobrol, bercanda, makan bareng dll. Sebab ketika udah ganti tanggal 19, maka Sabtu itu ngga akan pernah bisa terulang.

Makanya, momen pertemuan dengan orang lain haruslah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Apalagi yang ngga satu daerah nih, misal dia dari luar kota mampir sebentar doang. Singkirkan rasa sungkan. Kalo mau tanya, tanya detik itu juga. Ngobrol, yang aktif. Jika kamu nuruti sungkan, waktumu habis percuma dan jika benar itu terakhir kali kesempatanmu ngomong langsung, maka jadilah bibit penyesalan. Juga, uang kalo habis bisa dicari kok. Hape rusak bisa beli lagi. Tapi waktu, kesempatan, momen, adalah hal yang selamanya ngga bisa diputar ulang. Apalagi umur, beda provinsi aja udah susah ketemu. Beda alam? Ehehehe.

Mumpung ada kesempatan, kalo mau kasih hadiah, kasih segera. Berterima kasihlah dengan benar. Bikin seneng, minimal kasih permen. Ajak ngobrol, foto bareng, gitaran bareng, gitu hidup harusnya dinikmati. Oiyaa sekarang valentine ya, sekadar mengingatkan bahwa valentine bukan budaya kita. Budaya kita itu menyantap Indomie ditambah nasi, menikmatinya bareng teman-teman. Seru sekali bukan? Zhahahaha.

Hidup, selain harus dibikin keren, juga haruslah dibuat gembira!

Terima kasih sudah membaca 🍊



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Roger vs Tiger

Menjadi Generalis atau Spesialis? Sebuah Perspektif Dari Kisah Roger Federer dan Tiger Woods Pada bagian pendahuluan buku Range karya David Epstein ada sebuah kisah yang sangat menarik tentang dua atlet kelas dunia: Tiger Woods sebagai juara dunia golf dan Roger Federer sebagai juara dunia tenis. Kisah mereka saling bertolak belakang dan menggambarkan dengan jelas perbedaan antara menjadi seorang spesialis dan generalis. Roger Federer dan Tiger Woods Tiger Woods Kejeniusan Tiger Woods dalam bermain golf sudah disadari ayahnya sejak awal. Pada usia tujuh bulan, ayahnya memberikan tongkat golf untuk dijadikan sebagai mainan. Pada usia sepuluh bulan, ia merangkak turun dari kursi tinggi dan mengambil tongkat golf yang sudah dipendekkan mengikuti ukuran tubuhnya, dan mengayunkan tongkat seperti yang ia lihat pada ayahnya. Pada usia dua tahun ia sudah bisa memukul bola yang membuat aktor Amerika-Inggris, Bob Hope, merasa terkesan. Tiger kecil adalah orang terpilih untuk dunia golf, sehingg...

Prinsip Kebaikan dan Jasa

Prinsip Kebaikan dan Jasa Ada sebuah cerita tentang dua orang kawan sedang duduk bersama. Sebut saja Andi dan Eko. Andi meminta satu hal pada Eko, sesuatu yang bisa dia pegang selamanya. Kita sebut saja: prinsip. Eko ini  dikenal orang yang cerdas dan wawasannya luas sehingga banyak kawan-kawannya yang meminta pandangan darinya. Mendengar pertanyaan dari Andi, seperti biasa Eko pun memberikan level pilihan dan Andi memilih level tertinggi. Prinsip itu berbunyi "Ukurlah manusia dalam kadar jasa, bukan kesukaan" . "Ukuran" yang dimaksud itu misalnya begini. Suatu waktu Eko melihat sebuah postingan isinya kira-kira begini: "Emang ya, kadang orang yang baru bahkan yang tidak dikenal itu lebih baik ke kita daripada orang yang udah lama kenal". Pernyataan di atas bisa jadi benar dalam situasi tertentu, tapi tidak tepat bahkan batal bila diukur dengan prinsip tadi. Eko memberi contoh. Ia punya teman lama, sebut saja Ahmad yang sudah dikenalnya 10 tahun lebih. Mot...