Kodrat sebagai manusia tidak terlepas dari kesalahan dan ketidaksempurnaan dalam perbuatan. Namun demikian, manusia diciptakan serta dibekali dengan sifat-sifat untuk memperbaiki kesalahannya. Salah satu sifat yang dianjurkan untuk dimiliki adalah sifat pemaaf yang merupakan sifat mulia, karena tidak semua orang dapat dengan mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain
Hal-hal yang tidak disadari semua orang dalam pergaulan dengan sesama adalah melakukan sesuatu, baik secara lisan maupun perbuatan. Coba mari kita perhatikan lebih cermat diri kita. Apa yang sebenarnya dikeluarkan dari tubuh ini, semuanya tidak lain adalah kotoran. Tubuh kita mengeluarkan keringat, mata dan telinga mengeluarkan kotorannya, hidung pun juga demikian. Bahkan qubul dan dubur mengeluarkan kotoran yang merupakan najis. Maka yang tersisa adalah mulut atau lisan. Apakah juga akan kita keluarkan yang kotor atau sebaliknya?.
Jika yang keluar dari mulut adalah sesuatu yang "kotor" berupa kalimat atau pun ucapan negatif, kebohongan, cacian, fitnah, adu domba dan lain sebagainya. Maka apakah yang tersisa dari diri kita adalah kecuali semuanya adalah kejelekan, keburukan, dan kotoran. Inilah peran lisan untuk menjadikan diri kita lebih bernilai, yaitu menjaga dan memproduksi ucapan kebaikan, berupa kejujuran, ketulusan, dukungan dan lain sebagainya.
Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW :
سلامة الإنسان في حفظ اللسان
Artinya : "Keselamatan manusia berada pada kemampuannya dalam menjaga lisannya". (H.R. Bukhari)
Jadi, pentingnya menjaga lisan kita. Sebab lisan diibaratkan pisau, yang apabila salah menggunakannya akan melukai banyak orang
Hadirin yang dirahmati Allah SWT
Seperti yang dikatakan diawal, kodrat manusia tidak lepas dari kesalahan. Maka yang harus dilakukan adalah memperbaiki agar lebih baik. Bagaimana caranya? Yaitu dengan menyadari kesalahan dan bersegeralah meminta/memberi maaf. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Ali-Imran ayat 133-134 yang artinya: "Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa (133), (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan (134)"
Memberi maaf itu lebih sulit daripada meminta maaf, tapi memberi maaf lebih mulia daripada meminta maaf. Karena itu orang yang memberi maaf, menunjukkan jiwa yang lebih luhur daripada orang yang meminta maaf. Memberi maaf sangat dianjurkan oleh Allah SWT serta merupakan ciri-ciri orang yang bertaubat. Oleh karena itu, menuju bulan ramadhan ini, marilah kita saling berbuat kebaikan serta saling memaafkan antar sesama.
Kalau ada 1000 orang pemaaf, jadilah satu dari 1000 itu.
Kalau ada 100 orang pemaaf, jadilah satu dari 100 itu.
Kala ada 10 orang pemaaf, jadilah satu dari 10 itu.
Kalau hanya ada 1 orang pemaaf, maka jadilah yang satu itu.
Terima kasih, sekian.
Tugas Agama.
Komentar
Posting Komentar